Sukseskan Program Vaksinasi Nasional, Ini Tantangan Yang Menghadang

Sukseskan Program Vaksinasi Nasional, Ini Tantangan Yang Menghadang Kredit Foto: Taufan Sukma

Indonesia boleh saja berhasil mencatatkan kinerja memuaskan dalam pelaksanaan program vaksinasi COVID19. Di antara negara-negara non-produsen vaksin, Indonesia berada di peringkat empat terbaik di dunia, dengan catatan jumlah masyarakat yang telah divaksin mencapai 13,7 juta orang per awal April 2021 lalu. Jumlah tersebut hanya kalah dengan Brasil yang ada di peringkat pertama dengan 21 juta warga berhasil divaksinasi, Turki dengan 16,68 juta warga dan Jerman yang telah melakukan vaksinasi terhadap 14,37 warganya. Sementara bila juga memperhitungkan negara-negara produsen vaksin, maka Indonesia berada di peringkat delapan dunia.

Namun fakta di lapangan tetap menunjukkan bahwa bukan perkara mudah bagi pemerintah untuk menggarap program vaksinasi sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Salah satu tantangan yang menghadang diantaranya terkait kondisi geografis Indonesia yang harus diakui cukup merepotkan dalam proses distribusi vaksin hingga ke berbagai pelosok Tanah Air. “Dengan target sasaran vaksinasi sebanyak 181.554.465 oran, pemerintah terus berupaya untuk memberikan layanan terbaik dengan senantiasa meningkatkan realisasi penyuntikan (vaksin) hingga mencapai target satu juta dalam sehari,” ujar Pelaksana Tugas Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu, dalam sebuah diskusi virtual, Selasa (20/4).

Dalam proses pendistribusian vaksin, menurut Maxi, dibutuhkan rangkaian distribusi suhu dingin (cold chain) yang dapat menjamin bahwa vaksin harus selalu berada dalam kondisi suhu dingin tertentu dalam wadah penyimpanannya. Hal ini wajib dipenuhi guna mempertahankan kualitas dan efektivitas vaksin. “Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan kendaraan, ketersediaan serta kapasitas sarana dan alat pendingin sesuai karakter vaksin, jadwal distribusi, level stok maksimum dan minimum vaksin dan juga waktu interval vaksin sesuai dengan jenis vaksin itu sendiri. Selama proses distribusi kualitas harus tetap terjaga dengan baik. Karena itu butuh pemantauan sepanjang proses distribusi,” tutur Maxi.

Sejauh ini, Maxi menjelaskan, pendistribusian vaksin COVID19 yang dilakukan oleh Biofarma ke sejumlah daerah telah menggunakan teknologi Bio Tracking dan Bio Detect yang dilengkapi dengan freeze alert. Sistem ini disebut dapat memberikan peringatan dini saat terjadi perubahan suhu signifikan yang dapat berdampak pada kualitas vaksin yang ada. Sementara itu, Direktur Utama Trisinar Indopratama, Ellies Kiswoto, pada saat yang sama menyatakan bahwa Technoplast saat ini telah memproduksi Insulated Vaccine Carrier yang sesuai dengan kriteria sistem distribusi cold chain untuk vaksin COVID19. “IVC dari Technoplast telah mampu memberikan kestabilan suhu ruangan antara dua hingga delapan derajat celcius dalam waktu 48 jam, meskipun misalnya suhu di luar ruangan telah mencapai 30 derajat celcius,” ujar Ellies.

Tak hanya mampu menjaga stabilitas suhu antara dua hingga delapan derajat celcius, menurut Ellies, produk IVC Technoplast juga telah dilengkapi IOT yang dapat menjamin keamanan kualitas vaksin selama proses pendistribusian ke lokasi tujuan. Teknologi IOT ini diklaim Ellies tidak hanya sanggup mendeteksi suhu dan lokasi saja, melainkan juga memberikan beragam informasi, seperti tanggal pengiriman vaksin dari produsen, jumlah vaksin yang tersdia, hingga real time lokasi, track record suhu, nama kurir sampai juga indentifikasi pesawat yang digunakan sebagai moda transportasi pendistribusian ke daerah-daerah pelosok. “Lalu juga plat mobilnya. Nantinya setiap vaksin box juga memiliki CQR code tersendiri. Dengan kepastian keamanan vaksin ini, diharapkan dapat membantu mendongkrak animo masyarakat terhadap vaksinasi COVID19 sekaligus mempercepat pencapaian target-target (vaksinasi COVID19) yang telah ditetapkan sebelumnya,” tegas Ellies.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini