Ini Kunci  Syailendra Balance Opportunity Fund Cetak Yield di Tengah Volatilitas Pasar

Ini Kunci  Syailendra Balance Opportunity Fund Cetak Yield di Tengah Volatilitas Pasar Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso

Saham merupakan portofolio investasi dengan volatilitas amat tinggi. Beberapa hari ini volatilitas amat terasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi, mendekati level 5,800 di  April 2021.  Salah satu penyebabnya,  sentimen negatif investor global terkait ekspektasi inflasi Amerika Serikat (AS) yang melebihi perkiraan. Di tengah fluktuasi pasar, perlu fleksibilitas dalam melakukan diversifikasi. Di sinilah keunggulan reksadana campuran alias balance fund. 

Dalam investasi reksadana biasanya investor menyebar dana mereka ke beberapa jenis reksadana yang berbeda. Tujuannya agar imbal hasil investasi stabil. Namun  di reksadana campuran, investor sudah mendapatkan diversifikasi ke dalam tiga  jenis instrumen di dalam satu produk. Semuanya sudah diatur oleh manajer investasi. Jadi, reksa dana campuran merupakan opsi diversifikasi yang lebih praktis buat investor.

Fleksibilitas ini berbeda dengan jenis reksadana lain. Yang memiliki ketentuan minimum untuk berinvestasi pada instrumen sesuai dengan jenis reksadananya. Akibatnya fleksibilitas manajer investasi menjadi berkurang dan jadi salah satu penyebab mengapa banyak reksa dana sulit mengalahkan index.

Baca Juga: IHSG Melempem, Ini Saham-saham yang Paling Dijauhi Investor

Dalam menyikapi volatilitas pasar manajer investasi melihat adanya kebutuhan diversifikasi aset, sehingga investor dapat terlindungi ketika terjadi volatilitas yang tinggi pada pasar saham.  “Kami melakukan simulasi portfolio yang terdiversifikasi selama sepuluh tahun terakhir. Diversifikasi kelas aset terbukti memberikan kinerja yang lebih baik dibanding investasi pada saham (LQ45). Terlepas dari besar porsi yang dialokasikan pada ekuitas, obligasi, dan pasar uang, ketiga skenario memberikan kinerja di atas indeks saham maupun deposito,” terang  Presiden Direktur Syailendra Capital, Fajar R Hidayat.

Dengan kejelian tersebut, reksadana campuran Syailendra mencetak hasil berkilau. Tengok saja Syailendra Balance Opportunity Fund. Per 16 April 2021 kemarin, yield 3 bulan reksadana ini mencapai 17,7% dan enam bulan mencapai 17,58%. Yield setahun terakhir memang agak menurun sekitar 6,92%. Tapi masih lebih bagus dibandingkan reksadana lain yang minus. Jika sejak diterbitkan, reksadana ini mencetak yield 166,2%.

Syailendra Balance Opportunity Fund menempatkan portofolio di saham sebanyak 71,7%. Sisanya di korporate bond 13,3% dan pasar uang sebanyak 15%.  

Ya, Reksadana campuran memiliki alokasi seimbang pada setiap instrumen baik itu saham, obligasi, maupun pasar uang.  Walhasil, manajer investasi bisa leluasa  mengatur alokasi instrumen dengan lebih fleksibel. Misalnya ketika pasar saham sedang bullish, maka sebagian besar dana akan ditempatkan ke saham atau obligasi,  dan sebaliknya. 

Baca Juga: Mencapai Tujuan Keuangan Melalui Investasi Saham: Mulailah Sedini Mungkin

Dengan fleksibilitas yang bisa dilakukan oleh manajer investasi pada reksa dana campuran, maka MI bisa mengatur strategi yang lebih fleksibel agar performa reksa dana bisa mengalahkan index acuan. Artinya, MI bisa mengubah strategi alokasi instrumen dengan aktif sesuai perkembangan pasar.

Ya, reksa dana campuran bisa menjadi salah satu pilihan bagi investor. Manajer investasi leluasa memindahkan alokasi ke kelas aset berbeda sesuai dengan situasi pasar. Reksadana campuran dapat berinvestasi pada efek ekuitas dan/atau efek Utang dengan proporsi di saham (10% - 75%), obligasi (10% - 75%) dan pasar uang (2% - 75%).

Keleluasaan reksadana campuran tidak dimiliki reksadana jenis lain yang memiliki ketentuan minimum untuk berinvestasi pada instrumen sesuai dengan jenis reksadananya. Akibatnya fleksibilitas manajer investasi menjadi berkurang dan salah satu penyebab mengapa banyak reksadana sulit mengalahkan indeks.

Berbeda dengan reksadana campuran dengan fleksibilitasnya mampu menahan dari kejatuhan  imbal hasil saat portofolio sedang bearish. Sebaliknya hasil menjulang tinggi sat portofolio sedang bullish. Itu sudah terbukti terjadi pada Syailendra Balance Opportunity Fund yang mencatat hasil gemilang.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini