Wah! Harga CPO di Pekan III April 2021 Menguat 120 Persen Dibandingkan 2020

Wah! Harga CPO di Pekan III April 2021 Menguat 120 Persen Dibandingkan 2020 Kredit Foto: Antara/Wahdi Septiawan

Melewati pekan III April 2021, harga rata-rata minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada CIF Rotterdam basis tercatat menguat hingga 120 persen dari yang sebelumnya US$530 per MT atau sekitar Rp7.685.000) menjadi US$1.169 per MT (atau sekitar Rp16.950.500 per MT) dibandingkan periode yang sama secara y-o-y.

Jika dibandingkan pekan lalu, average price yang tercatat tersebut menguat 1 persen dari yang sebelumnya sebesar US$1.159 per MT (atau sekitar Rp16.805.500 per MT).

Baca Juga: Kalahkan Januari 2021, Harga CPO Februari 2021 Terus Melambung

Meskipun penyebaran pandemi Covid-19 masih masif di Indonesia, harga rata-rata CPO tersebut berada jauh di atas level harga potensial yang sebesar US$700 per MT. Tidak hanya itu, harga CPO saat ini juga membawa harapan baru terhadap harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.

Sejumlah ahli mengatakan, penguatan harga CPO saat ini dipicu oleh perayaan bulan Ramadan dan Idulfitri pada negara-negara Asia, terutama Indonesia dan Malaysia yang menyebabkan semakin ketatnya pasokan. Minyak sawit serta minyak nabati lain tidak hanya digunakan untuk keperluan konsumsi saja, tetapi juga untuk energi. Minyak nabati umum digunakan sebagai bahan campuran dalam pembuatan biodiesel pengganti bahan bakar fosil.

Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjono mengatakan, harga CPO yang tinggi disebabkan oleh produksi minyak nabati yang rendah. Hal ini juga ditambah dengan produksi biodiesel yang meningkat karena komitmen pemerintah beberapa negara seperti Indonesia, Amerika Serikat, Brasil dan Jerman untuk terus mengimplementasikan program penggunaan biodiesel.

Mukti menuturkan, Oil World memperkirakan produksi biodiesel dunia pada 2021 akan mencapai 47,5 juta ton atau 2,2 juta ton lebih tinggi dari tahun 2020 dan 1,5 juta ton lebih tinggi dari tahun 2019. 

Kendati demikian, Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, setelah melewati bulan Ramadan dan Idulfitri, potensi koreksi harga CPO akan semakin kuat. Hal ini terjadi seiring dengan siklus cuaca La Nina yang telah rampung sehingga memudahkan proses penanaman dan panen buah sawit.

Membaiknya cuaca juga akan berdampak positif bagi komoditas substitusi CPO, yakni biji kedelai. Perbaikan output biji kedelai dari negara-negara produsen seperti Amerika Serikat dan Brazil, serta menurunnya permintaan akan memicu penurunan harga, baik untuk biji kedelai maupun CPO.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini