BRI Bagi Resep agar Masyarakat Makin Aman Bertransaksi Keuangan Digital

BRI Bagi Resep agar Masyarakat Makin Aman Bertransaksi Keuangan Digital Kredit Foto: BRI

Sebagai bank yang memiliki layanan dan produk keuangan digital yang terintegrasi, BRI terus berupaya menjamin keamanan siber atas sistem dan platform yang dimiliki. Ada dua jurus utama BRI dalam meningkatkan keamanan siber, yakni melakukan pengamanan berlapis dan aktif melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak.

BRI rutin melakukan identifikasi kerentanan dan testing (penetration test) yang ketat untuk memastikan tidak ada lubang di setiap inovasi produk digital. Kemudian, pengamanan berlapis dilakukan melalui penjaminan keamanan layanan dan operasional, penerapan protection technology, serta pengadaan sistem untuk mendeteksi ancaman siber secara cepat dan tepat menggunakan big data dan AI.

Baca Juga: Naik 13,13%, BRI Insurance Cetak Laba Bersih Rp204 M di 2020

"Jadi kalau ada insiden, harus ada respons cepat untuk bisa recover. Ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor baik dengan fintech, regulator, penegak hukum, telco. Harus ada kolaborasi yang makin erat antara sektor telco dan perbankan," ujar Direktur Digital & Teknologi Informasi BRI, Indra Utoyo, dalam acara BRI Cuap-cuap Cuan Berkah yang diadakan oleh BRI dan CNBC Indonesia.

Menurut Indra, digitalisasi yang berjalan cepat saat ini membawa konsekuensi pada peningkatan risiko keamanan siber. Karena itu, pelaku sektor perbankan saat ini harus bisa memiliki manajemen risiko yang lebih baik, cepat, dan tepat untuk memastikan keamanan setiap produk yang dimiliki.

Upaya membangun keamanan siber yang kuat tidak bisa dilakukan oleh masing-masing bank secara terpisah. Kolaborasi antarbank dan juga mengajak para pemangku kepentingan, regulator, serta penegak hukum juga harus dilakukan. Melalui kolaborasi yang kuat dan luas, dipastikan ke depannya respons dan langkah preventif tindak kejahatan siber bisa makin efektif dilakukan.

Indra menyebut, saat ini BRI telah menjalin kolaborasi dengan Perbanas, ASPI, BSSN, perusahaan telco, dan fintech serta regulator dan penegak hukum untuk meningkatkan pengamanan siber. Kolaborasi ini membuat BRI bisa lebih sigap dalam meminimalisasi potensi kerugian apabila ada tindakan yang dicurigai sebagai bentuk kejahatan siber.

"Kami juga percepat kartu-kartu ini bentuknya segera chip, itu dan kami edukasi bersama-sama dengan pelaku jasa keuangan dan regulator kepada nasabah agar lebih berhati-hati, menerapkan pola akses yang lebih sehat, tidak klik situs yang tidak jelas, dan yang terpenting kolaborasi dengan [perusahaan] telekomunikasi. Karena memang setiap layanan digital ini praktis menggunakan mobile dan nanti attach dengan nomor telepon, penting kolaborasi dengan mobile. Jadi, kalau ada blacklist nomor telepon ini penting untuk dilakukan, kalau ada pergantian nomor (nasabah pengguna mobile banking) juga kami dinotifikasi sehingga tidak terjadi fraud yang berpotensi merugikan nasabah," paparnya.

Indra juga berharap masyarakat (khususnya nasabah BRI) bisa makin berhati-hati dan membentengi diri sendiri agar terhindar dari segala tindakan yang berpotensi merugikan mereka. Tips-nya, kata Indra, jangan gunakan public Wi-Fi yang tidak aman. Selain itu, password kalau bisa harus cukup kompleks.

"Akun di medsos dan mobile banking harus dibedakan password dan user ID, kemudian pola tidak mudah ditebak. Kalau akses mengggunakan akses PC, sebaiknya gunakan perangkat pribadi, pastikan aktifkan notifikasi sehingga akan terus dapat notif dari setiap transaksi dan berperilaku internet sehat," saran Indra.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini