Dukung Percepatan ISPO Pekebun Sawit, Apkasindo Usulkan 4 Tipologi Sustainable

Dukung Percepatan ISPO Pekebun Sawit, Apkasindo Usulkan 4 Tipologi Sustainable Kredit Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas

Pemerintah Indonesia telah menerbitkan program strategis terkait pengembangan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan, di antaranya melalui Inpres Nomor 6 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN-KSB), diplomasi dan kampanye positif sawit, mandatori biodisesel, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) seluas 2,4 juta hektare (2017-2032), serta program strategis nasional Energi Baru Terbarukan (EBT).

Tidak hanya itu, dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan, pemerintah Indonesia juga menyiapkan strategi melalui sistem sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Terkait percepatan ISPO, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menawarkan dua model Sustainable Palm Oil, yaitu Absolute Sustainable yang diperuntukkan bagi korporasi dan Relative Sustainable untuk pekebun sawit.

Baca Juga: Tahun 2021: 2.000 Ton IVO dari Petani Sawit Muba Siap Olah Jadi Bensa

Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Manurung, menjelaskan bahwa Relative Sustainable yang dapat digunakan pekebun terbagi dalam empat tipologi. Tipologi pertama adalah Platinum Sustainable. Tipologi ini berlaku bagi pekebun sawit yang memang memiliki dokumen dan berkas-berkas sangat lengkap seperti pekebun peserta PSR.

Tipologi kedua, yakni Gold Sustainable, ditujukan bagi pekebun yang sudah layak ISPO, hanya ada satu atau dua dokumen yang kurang. Tipologi ketiga yang merupakan Silver Sustainable ditujukan kepada pekebun yang memiliki kekuranglengkapan 2-3 dokumen, tetapi secara prinsip sudah layak ISPO, misalnya pekebun yang belum memiliki Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), histori agronomis tidak tercatat dengan baik dengan kekurangan dari dokumen yang dibutuhkan boleh menyusul.

Tipologi keempat, yakni Iron Sustainable. Khusus tipologi ini, pekebun memang tidak mungkin tertolong, serba salah, tidak ada satupun kelengkapan dokumen. Kondisi pekebun yang seperti ini, aktivitas budi dayanya terpaksa dihentikan atau cukup satu daur.

"Filosofinya adalah tipologi ketiga perlahan-lahan di-upgrade kepada kelompok dua. Lalu tipologi kedua secara pasti perlahan ditingkatkan kepada tipologi pertama. Kalau pola ini diterapkan, saya pastikan lima tahun ke depan paling tidak 75 persen pekebun sudah memegang sertifikat ISPO. Apakah itu tipologi pertama, kedua, atau ketiga, yang penting niat pemerintah sungguh-sungguh menolong pekebun untuk sustainable smallholder," ungkap Gulat.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini