Setiap 4 Menit Sekali, Orang-orang di India Kehilangan Nyawa Gegara Corona

Setiap 4 Menit Sekali, Orang-orang di India Kehilangan Nyawa Gegara Corona Kredit Foto: Antara/REUTERS/Danish Siddiqui

India terus berjuang mengatasi gelombang kedua penularan COVID-19. Semenyata pemerintahan pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi berusaha membungkam kritik yang muncul di media sosial.

Pemerintah India mendapat banyak kritikan karena dianggap lengah dan terlalu cepat percaya diri, dengan mengizinkan berbagai kegiatan keagamaan dan politik. Pemerinta India mengiziankan orang berkumpul dalam jumlah besar ketika kasus di India sempat turun ke angka di bawah 10 ribu per hari.

Baca Juga: Corona Bikin Putus Asa! Hanya Demi Oksigen, Rakyat India Antre buat Selamatkan Diri

Pemerintah juga dituduh tidak mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan kalau ada peningkatan kasus.

Sekarang kasus harian naik selama empat hari berturut-turut, dengan dalam 24 jam terakhir ada 349.691 kasus. India sekarang menjadi negara dengan kasus penularan tertinggi di dunia.

Dalam sebulan terakhir saja, angka kasus setiap hari naik delapan kali lipat sementara angka kematian naik 10 kali lipat.

Setiap menit empat orang meninggal

Negeri dengan penduduk 1,3 miliar orang tersebut sekarang sudah mencatat 16,96 juta kasus, dan 192.311 kematian.

Dalam 24 jam terakhir, menurut data dari Departemen Kesehatan yang meninggal sebanyak 2.767 orang. Namun para pakar mengatakan jumlah sebenarnya yang meninggal mungkin lebih banyak lagi.

Para pakar mengatakan adanya varian yang lebih cepat menular, termasuk yang banyak beredar di India bernama B.1.617 juga menjadi salah satu sebab meningkatnya kasus dengan cepat.

Para dokter di Institut Kedokteran India di Delhi mengatakan sekarang ini setiap pasien COVID menularkan ke sampai 9-10 orang. Sementara tahun lalu hanya menularkan ke 4 orang saja.

Di ibukota India New Delhi, diperkirakan setiap empat menit ada yang meninggal karena COVID-19.

Usaha membungkam kritik

Hari Sabtu, Twitter mematuhi permintaan India dengan mencegah setiap pemakai media sosial di India melihat lebih dari 50 cuitan yang mengkritik bagaimana pemerintah menangani pandemi.

Cuitan yang mendapat pembatasan adalah yang berasal dari pihak oposisi yang bersifat kritis terhadap PM Modi, para wartawan dan warga India biasa.

Juru bicara Twitter mengatakan mereka memiliki kuasa "untuk membatasi cuitan untuk beredar di India saja" bila perusahaan itu beranggapan bahwa isi cuitan "ilegal menurut sistem hukum yang ada".

Perusahaan itu mengatakan mengambil tindakan karena permintaan dari pemerintah dan memberitahu kepada mereka yang mendapatkan pembatasan.

Kementerian Teknologi Informasi India tidak memberikan jawaban ketika dihubungi. Namun meski ada pembatasan, gambar-gambar mengerikan mengenai suasana rumah sakit dan tempat-tempat kremasi beredar luas di Twitter, dan juga seruan permintaan bantuan.

Virus menelan orang seperti monster'

Rumah sakit dan para dokter sudah memasang berbagai pengumuman bahwa mereka tidak lagi mampu menangani begitu banyaknya pasien yang datang. Banyak orang yang sekarat di jalan-jalan di luar rumah sakit di saat mereka menunggu untuk diperiksa.

Di kota Bhopal, beberapa tempat pembakaran jenazah yang biasanya hanya membakar sekitar 10 jenazah setiap hari sekarang harus mengurusi lebih dari 50. Petugas mengatakan itupun proses berlangsung lama dengan masa tunggu beberapa jam.

Di salah satu krematorium di kota tersebut Bhadbhada Vishram Ghat, pekerja di sana mengatakan mereka  melakukan kremasi terhadap lebih dari 110 jenazah hari Sabtu. Meskipun, angka resmi dari pemerintah di kota yang berpenduduk 1,8 juta jiwa itu, angka kematian karena COVID-19 disebutkan hanya 10 orang.

"Virus ini menelan penduduk kota ini seperti monster," kata Mamtesh Sharma, seorang petugas setempat.

Dengan begitu banyak jenazah yang harus ditangani krematorium itu tidak lagi melakukan upacara keagamaan bagi perseorangan. "Kami membakar jenazah sesuai dengan kedatangan mereka," kata Sharma.

Kremasi terjadi seperti ketika terjadi dalam suasana perang. Petugas gali kuburan di TPU Muslim terbesar di New Delhi mengatakan sekarang lebih banyak yang dimakamkan dibandingkan tahun lalu.

"Saya khawatir kami tidak akan lagi memiliki lahan yang cukup dalam waktu dekat," kata Mohammad Shameem.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini