Pakar Asing Bingung Bagaimana Indonesia Angkat Kapal Seberat 1.400 Ton dari Laut Sedalam 800 Meter

Pakar Asing Bingung Bagaimana Indonesia Angkat Kapal Seberat 1.400 Ton dari Laut Sedalam 800 Meter Kredit Foto: Facebook/Pusat Penerangan TNI

Militer Indonesia dan tim penyelamat kini menghadapi tantangan baru dalam mengevakuasi 53 jenazah awak kapal selam KRI Nanggala-402. Bagaimana skenario evakuasi tersebut?

Kapal selam TNI Angkatan Laut (AL) itu dinyatakan tenggelam di kedalaman 838 meter di perairan Bali setelah hilang kontak sejak Rabu pekan lalu. Sebanyak 53 awaknya telah dinyatakan gugur.

Baca Juga: Putin Ikut Sampaikan Duka Cita Atas Tenggelamnya Nanggala-402, Ini Katanya...

TNI AL bertekad untuk mengangkat kapal selam tersebut bersama jenazah para awaknya.

"Mengangkat kapal selam adalah prestasi logistik yang sangat, sangat signifikan," kata Frank Owen, pakar dan sekretaris di Submarine Institute of Australia, kepada ABC, Selasa (27/4/2021).

"Mengambil jenazah satu per satu, atau tanpa mengangkat seluruh kapal selam, akan menjadi tantangan nyata," katanya lagi. 

"Anda benar-benar berurusan dengan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh, yang belum tentu memiliki kerumitan dan kemampuan tangan untuk mengendalikan beberapa bagian tubuh."

Sekadar perbandingan, dia memaparkan kapal selam nuklir Rusia; Kursk, tenggelam di Laut Barents pada 12 Agustus 2000 dan baru bisa dianggkat tahun 2001 atau butuh waktu setahun.

Kapal selam Kursk yang beratnya sekitar 20.000 ton diangkat dari kedalaman lebih dari 100 meter.

Sebaliknya, KRI Nanggala-402 jauh lebih ringan, yakni 1.400 ton, tapi juga jauh lebih dalam, yakni lebih dari 800 meter.

"Tapi bahkan untuk mengangkat kapal selam seberat 1.400 ton dari dasar laut membutuhkan banyak logistik," ujarnya.

"Anda harus menyiapkan kapal yang tepat, Anda kemudian harus turun ke dasar laut, dan [hampir] 840 meter adalah jalan yang panjang," ujar Owen.

"Anda kemudian harus mendapatkan semacam pengapungan di kapal selam, yang biasanya berupa tas berisi solar yang kemudian dapat memberikan daya apung—udara tidak berguna di kedalaman itu."

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini