AHY dan Demokrat Dapat Jempol dari Pengamat: Sebagai Komandan Ia Tahu Nyawa Prajurit Berharga

AHY dan Demokrat Dapat Jempol dari Pengamat: Sebagai Komandan Ia Tahu Nyawa Prajurit Berharga Kredit Foto: Antara/Aditya Pradana Putra

Pengamat politik yang juga dosen UIN Ciputat Adi Prayitno menilai tiga usulan yang disampaikan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) relevan dengan kondisi yang dihadapi para keluarga prajurit.

“Mas AHY berdinas militer selama 16 tahun sebagai komandan. Ia mestinya tahu betapa berharganya setiap nyawa prajurit, dan dibalik setiap nyawa prajurit itu, ada keluarga yang menggantungkan hidupnya. Bayangkan saat kepala keluarga mereka gugur dalam tugas. Ini soal kemanusiaan,” tandas Adi.

Baca Juga: Petik Hikmah Besar saat Dijegal Moeldoko Cs, Ternyata Oh Ternyata Ini Maksudnya Mas AHY

Ia berharap, usulan Partai Demokrat agar pemerintah memberikan perhatian penuh bagi keluarga awak KRI Nanggala 402, jangan dilihat dengan kacamata politik semata.

"Lihatlah dari sisi kemanusiaan. Indonesia sedang berkabung nasional, kehilangan patriot terbaik. Peran para awak yang gugur sebagai Ayah, suami maupun anak dari keluarga yang mereka tinggalkan, tidak akan pernah tergantikan selamanya,” tutur Adi.

Untuk diketahui, tiga usulan tersebut adalah keluarga tetap menerima gaji utuh, beasiswa bagi anak-anak mereka serta fasilitas perumahan. 

Dari tiga usulan tersebut, pemerintah melalui Menteri Pertahanan sudah setuju untuk memberi beasiswa penuh bagi anak-anak para awak KRI Nanggala 402 hingga lulus Sarjana.

Senada, Dosen FISIP Unsyiah Banda Aceh Aryos Nivada bahkan menggarisbawahi gugurnya Letkol (P) Irfan Suri asal Samalanga, Bireun, Aceh.

Padahal, sebelumnya Bireun diketahui sebagai salah satu basis kuat Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

"Ini merupakan wujud kesetiaan dan pengorbanan masyarakat Aceh demi keutuhan NKRI,” tegas Aryos, yang juga peneliti senior Jaringan Survei Inisiatif, Aceh.

Karena itu, Aryos mengapresiasi pemerintah yang sudah mewujudkan satu dari tiga usulan Partai Demokrat sebagai bentuk perhatian penuh pemerintah pada para keluarga awak kapal selam yang tenggelam itu.

Harapan yang sama dinyatakan pengamat Mochtar W. Oetomo dari Surabaya, disebutkan, 47 dari 53 awak yang gugur berasal Jawa Timur. Arek-arek ini patriot bangsa yang sejati. Kejadian yang luar biasa. Sudah sepatutnya negara memperlakukan mereka dengan luar biasa.

“Jangan cukup mengikuti protap yang berlaku saja,” kata Mochtar yang juga mengelola lembaga survei Surabaya Survey Center (SSC).

Karena menurutnya, menjadi prajurit itu kontrak mati. Setiap prajurit tahu itu. Keluarganya pasti juga tahu. Tapi ketika akhirnya mereka gugur dalam tugas, peran mereka dalam keluarga masing-masing tetap tidak tergantikan.

“Karena itu setidak-tidaknya negara bisa meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Tiga hal yang diusulkan Demokrat, sudah pas” tegas Mochtar. 

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini