Pendatang Asing Mau ke Singapura? Sebentar, Wajib Ikuti 21 Hari Karantina Dulu

Pendatang Asing Mau ke Singapura? Sebentar, Wajib Ikuti 21 Hari Karantina Dulu Kredit Foto: Unsplash/Joshua Ang

Singapura memberlakukan karantina wajib selama 21 hari kepada pengunjung asing mulai tanggal 8 Mei sebagai upaya mencegah gelombang wabah Covid-19. Mereka harus melakukan karantina selama 3 pekan di fasilitas khusus yang disiapkan pemerintah.

Namun aturan ini tak berlaku bagi pendatang dari Australia, Brunei Darussalam, China, Selandia Baru, Taiwan, Hong Kong, dan Makau.

Baca Juga: Indonesia-Singapura Perkuat Kemitraan Kembangkan BBK

Berbicara pada konferensi pers pada Selasa malam, Ketua Satuan Tugas Multi-kementerian Singapura Lawrence Wong mengatakan situasi Covid-19 global telah memburuk, dengan varian dan kasus baru menyebar dari Asia Selatan ke Asia Tenggara.

“Kami mengadopsi langkah perbatasan yang lebih ketat ini hingga akhir Mei, setelah itu kami akan melakukan peninjauan lebih lanjut tergantung pada situasi global dan situasi lokal, dan kami akan terus memperbarui dan menyempurnakan langkah-langkah perbatasan kami,” kata Wong.

Khusus turis dari Fiji dan Vietnam diizinkan menyelesaikan tujuh dari 21 hari terakhir karantina di rumah. Saat ini, Singapura hanya menerapkan karantina wajib 21 hari bagi pelancong asal India.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Singapura juga mengurangi batas maksimal orang yang hadir di pertemuan yakni dari delapan menjadi lima terhitung mulai Sabtu mendatang hingga 30 Mei.

Para pengusaha atau perusahaan juga harus membatasi kehadiran di tempat kerja hingga 50 persen, turun dari 75 persen yang berlaku saat ini. Kementerian Kesehatan Singapura menyatakan aturan ini diterapkan untuk memutus mata rantai penularan mengingat adanya lonjakan jumlah infeksi virus korona.

Singapura melaporkan penambahan 60 kasus dalam sepekan terakhir, dibandingkan 10 kasus pada pekan sebelumnya. Singapura saat ini mencatat kasus Covid-19 lebih dari 61 ribu kasus, termasuk 31 kematian.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini