Sukses Lewati Ujian Kudeta Moeldoko, Survei Sebut Demokrat Bertengger di Posisi 2 Setelah PDIP

Sukses Lewati Ujian Kudeta Moeldoko, Survei Sebut Demokrat Bertengger di Posisi 2 Setelah PDIP Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Kesuksesan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melewati ujian kudeta yang digalang Moeldoko, ditambah rajinnya AHY melakukan konsolidasi, akhirnya membuahkan hasil menggembirakan. Di survei yang dilansir Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) kemarin, Partai Demokrat sudah bertengger di posisi 2

Hasil survei LP3ES ini dansir kemarin oleh salah satu penitinya, Erwan Halil. Jumlah sampel dalam survei ini 1.200 responden, terbagi secara proporsional berdasarkan jumlah pemilih (penduduk usia dewasa) yang tercatat pada Pemilu 2019. Sampel ditentukan dengan acak bertingkat (Multistage random sampling). Margin of error: +/- 2,8% pada tingkat kepercayaan (level of confidence) 95%.

Baca Juga: Elektabilitas Demokrat Moncer, Mas Ketum AHY Masuk Empat Besar Kandidat Capres

Pengumpulan data dilakukan pada 8-15 April 2021, melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur.

Survei ini memiliki keterbatasan karena mewakili pemilih Kota Besar secara nasional, sampel kurang dapat menggambarkan masing-masing kota.

Jika Pemilu dilaksanakan saat ini, dalam hasil survei LP3ES ini, maka partai politik yang paling banyak dipilih responden adalah PDIP (24%), Partai Demokrat (11,3%), Gerindra (9%), Golkar (7,4%), dan PKS (6%). Masih terdapat sepertiga pemilih belum terbuka dengan pilihannya.

Loyalitas terhadap partai, jelas Erwan, menjadi alasan utama memilih, disusul pilihan yang didasarkan pada visi-misi/program partai, pertimbangan partai memihak rakyat kecil, faktor Caleg yang diusung, pengaruh to­koh agama, dan faktor figur Ketua umum partai politik.

Sementara kalau yang dipotret ketokohannya, Erwan menyebut, lima diantaranya memuncaki hasil survei dari sisi “popularitas” dan “like-abilitas”. Kelimanya secara berurutan adalah: Prabowo Subianto, Sandiaga Salahudin Uno, Anies Rasyid Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono, dan Ridwan Kamil.

“Prabowo Subianto masih memuncaki urutan pertama preferensi politik masyarakat sebagai Presiden, disusul Anies Rasyid Baswedan, Ganjar Pranowo, Agus Harimurti Yudhoyono, dan Ridwan Kamil,” tegasnya.

Erwan juga merinci figur Ketua Umum Partai Politik yang paling populer (5 terbesar) adalah Prabowo Subianto (27,6%), Megawati Soekarno Putri (23,3%), Agus Harimurti Yudhoyono (21,5%), Muhaimin Iskandar (6,8%) dan Airlangga Hartarto (6,1%).

Hal lain yang dielaborasi dalam survei LP3ES soal penilaian terhadap kinerja lembaga pemerintahan. Secara umum, juga tidak jauh berbeda. Bahkan Kinerja lembaga Politik seperti Partai Politik (53,3%) dan kepanjangan tanggannya DPR (55,2%) / DPRD (59,5%) berada pada penilaian rendah atau kurang memuaskan dari masyarakat.

“Kinerja Sektor pemerintahan yang mendapat penilaian terendah yaitu Peningkatan kehidupan Ekonomi (51,1%), Penindakan Pelanggar HAM (54%), Pemberantasan Korupsi (55,1%), Kebebasan Berpendapat (59,2%). Penilaian terhadap Kebebasan Berpendapat juga terkonfirmasi dengan persepsi terhadap ancaman kebebasan sipil, dimana 52,1% responden menyebutkan bahwa sekarang ini semakin takut untuk menyatakan pendapat, berekspresi, berkumpul dan berserikat,” jelasnya.

Erwan mengingatkan, masalah pelembagaan partai politik penting dikemukakan dalam menyongsong kontestasi partai-partai politik dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden tahun 2024, selain keberadaannya di tengah isu-isu penting terkait dengan kinerja pemerintahan dan isu-isu aktual lainnya.

Dari sisi publik/pemilih, hasil survei LP3ES di 34 Kota di Indonesia memperlihatkan jika masyarakat kita mengikuti dengan cukup baik isu-isu sosial politik yang terjadi dalam 3 bulan terakhir. Publik mengikuti perkembangan isu-isu melalui pemberitaan yang dianggap paling menarik perhatian seperti konflik Partai Demokrat, vaksinasi dan penanganan Covid-19, korupsi Bansos, Asabri,dll, bom bunuh diri Makassar, bencana alam dan banjir bandang di NTT. 

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini