Waspada! Penipu Online Gunakan Vaksinasi Jadi Umpan, Begini Skemanya

Waspada! Penipu Online Gunakan Vaksinasi Jadi Umpan, Begini Skemanya Kredit Foto: Kaspersky

Para pelaku kejahatan siber terus mencari cara baru untuk mencuri data pengguna. Tahun lalu saja, kategori terkait pandemi menjadi salah satu kedok yang paling menguntungkan dan banyak digunakan untuk serangan siber.

Mereka juga secara intensif menggunakan email spam terkait Covid-19 dan halaman phishing untuk mendapatkan keuntungan dari berita paling menggegerkan dan terkenal tahun ini. Menurut laporan terbaru Kaspersky, "Spam and Phishing in Q1 2021", para pelaku kejahatan siber terus mengeksploitasi tantangan epidemiologi tersebut-dan kali ini, berfokus pada proses vaksinasi.

Baca Juga: Menerawang Ancaman Keamanan Siber Selama Pandemi

"Di tahun 2021 ini, kami masih melihat kelanjutan dari tren 2020. Para pelaku kejahatan siber masih secara aktif memanfaatkan tema Covid-19 untuk memikat calon korban. Saat program vaksinasi virus corona telah diluncurkan, pelaku spam telah mengadopsi proses tersebut sebagai umpan," kata Tatyana Shcherbakova, pakar keamanan di Kaspersky dalam keterangan tertulisnya, Kamis (6/5/2021).

Pakar Kaspersky menemukan berbagai jenis halaman phishing yang telah didistribusikan ke seluruh dunia. Selain email spam, penerima juga diundang untuk mendapatkan vaksin, berpartisipasi dalam mengikuti survei, atau mendiagnosis Covid-19.

Misalnya, beberapa pengguna dari Inggris Raya menerima email yang tampaknya berasal dari Layanan Kesehatan Nasional negara tersebut. Penerima diundang untuk divaksinasi, setelah terlebih dahulu mengonfirmasi kemauan mereka untuk divaksinasi dengan mengikuti tautan.

Untuk membuat janji vaksinasi, pengguna harus mengisi formulir dengan data pribadinya, termasuk detail kartu bank. Akibatnya, mereka menyerahkan data pribadi dan finansial mereka kepada para penipu online.

Cara lain untuk mendapatkan akses ke data pribadi pengguna adalah melalui survei vaksinasi palsu. Para penipu online mengirim email atas nama perusahaan farmasi besar yang memproduksi vaksin Covid-19, mengundang penerima untuk mengikuti survei singkat.

Semua peserta akan dijanjikan hadiah atas partisipasi mereka dalam survei. Setelah menjawab pertanyaan tersebut, korban dialihkan ke halaman dengan kedok 'hadiah'. Untuk menerima hadiah, para pengguna diminta untuk mengisi kelengkapan formulir dengan informasi pribadi. Dalam beberapa kasus, para penipu online ini akan meminta pembayaran sejumlah token untuk pengiriman.

Terakhir, para ahli Kaspersky menemukan email spam yang menawarkan layanan atas nama pabrikan China. Email tersebut menawarkan produk untuk mendiagnosis dan mengobati virus, tetapi paling utama adalah pada penjualan jarum suntik vaksinasi.

"Penting untuk diingat bahwa meskipun penawaran semacam itu mungkin terlihat menguntungkan, kemungkinan kesepakatan yang berhasil adalah nol. Para pengguna dapat menghindari kehilangan data atau, dalam beberapa kasus uang, jika mereka tetap waspada terhadap penawaran menguntungkan yang didistribusikan secara online," kata Tatjana.

Untuk menghindari menjadi korban penipuan berkedok vaksin, Kaspersky menyarankan pengguna:

-Untuk bersikap skeptis terhadap berbagai jenis penawaran dan promosi yang didistribusi online dan disertai hadiah;

-Untuk memverifikasi bahwa pesan berasal dari sumber yang dapat dipercaya;

-Tidak mengikuti tautan dari email mencurigakan, pesan instan, atau komunikasi jejaring sosial;

-Untuk memeriksa keaslian situs web yang mereka kunjungi.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini