Puan Keok Mulu Lawan Ganjar, PDIP: Belum Tentu Menang Pertempuran! Semua Ada di Tangan Megawati

Puan Keok Mulu Lawan Ganjar, PDIP: Belum Tentu Menang Pertempuran! Semua Ada di Tangan Megawati Kredit Foto: Antara/Rivan Awal Lingga

PDIP sepertinya sedang dilema. Pasalnya, sang putri mahkota, Puan Maharani, selalu loyo di survei-survei pilpres. Sementara itu, Ganjar Pranowo selalu greng. Apakah PDIP akan tetap majukan Puan atau Ganjar, semuanya ada di tangan Megawati

Dari sejumlah survei capres, tingkat keterpilihan Puan sangat rendah. Dia selalu ada di urutan buncit. Beda dengan Ganjar yang selalu ada di tiga besar. Baca Juga: KPK Yakin Azis Syamsuddin Gak Akan Tiru Kelakuan Caleg PDIP Harun Masiku

Misalnya, dalam survei capres yang digelar Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Ganjar berada di posisi ketiga dengan tingkat keterpilihan sebesar 9,6 persen.

Sementara Puan berada jauh di bawah Ganjar. Ketua DPR itu hanya menempati posisi ketujuh dengan tingkat keterpilihan 2,9 persen. Baca Juga: Sukses Lewati Ujian Kudeta Moeldoko, Survei Sebut Demokrat Bertengger di Posisi 2 Setelah PDIP

Begitu juga di survei Indikator Politik Indonesia (IPI). Dalam survei ini, Ganjar berada di posisi teratas persen. Sementara Puan tetap di posisi ketujuh dengan perolehan 2,9 persen. dengan perolehan sebanyak 15,7 persen.

Selain kedua lembaga survei itu, masih banyak lagi hasil survei capres yang menempatkan posisi Puan di posisi bontot. Dalam survei Charta Politika Indonesia pada akhir Maret 2021, malah menempatkan Puan di posisi kesebelas dengan perolehan 1,2 persen.

Padahal sudah berbagai cara dilakukan PDIP mendongkrak elektabilitas Puan. Bahkan Presiden Jokowi juga sudah menenteng Puan saat blusukan dan berdialog dengan wong cilik di Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Kegiatan dinilai sebagai upaya mendongkrak Puan. Namun sayang, upaya itu seakan sia-sia. Tingkat keterpilihan Puan masih saja mandek.

Situasi itu tak bikin PDIP senang. Ketua DPP Bidang Pemenangan Pemilu PDIP, Bambang Wuryanto mengatakan, modal tinggi saja di survei, tidak cukup untuk menang Pilpres. Yang penting, kata dia, pertarungan di lapangan.

Menurutnya, hal ini sama seperti saat Ganjar pertama kali dicalonkan sebagai Gubernur Jawa Tengah di Pilkada 2013. Saat itu, Ganjar cuma punya modal elektabilitas 3 persen. Namun, hasilnya bisa menjadi Gubernur Jawa Tengah dua periode.

“Ya cuma di situ apakah itu membuat pertempuran akan menang, ya belum itu baru udara bos!” tegasnya.

Politisi PDIP lainnya, Effendi Simbolon mengatakan, hasil sejumlah lembaga survei saat ini masih terlalu dini dan dinamis. Banyak yang akan berubah di penghujung kontestasi.

Menurut dia, rendahnya keterpilihan Puan karena belum ada gerakan apapun menuju pilpres. Selain itu, Puan juga tidak memiliki panggung seperti Ganjar ataupun bakal capres lainnya. “Kalau yang lain, punya panggung sebagai kepala daerah ataupun mantan capres,” katanya.

Lagipula, hingga saat ini PDIP belum menentukan sikap. Dengan begitu, belum ada kerja-kerja politik secara masif untuk mendongkrak Puan. “Kalau sudah ada, tentu elektabilitas Mbak Puan bakal melejit. Mengalahkan yang lainnya,” katanya dihubungi wartawan, kemarin.

Apalagi, lanjut Effendi, Puan memiliki segudang pengalaman. Baik di eksekutif maupun di legislatif. Putri kandung Megawati Soekarnoputri itu juga merupakan anggota DPR dengan raihan suara terbanyak.

“Itu bukti kalau penerimaan masyarakat terhadap Mbak Puan bagus,” katanya. Sebelumnya, Ganjar juga malu-malu saat ditanya hasil survei pilpres.

Sementara itu, pengamat politik Karyono Wibowo yakin PDIP akan menentukan sikapnya secara realistis. Menurutnya, partai berlambang banteng dengan moncong putihnya itu akan mengusung calon dari kadernya yang memiliki elektabilitas tinggi.

“Tentu PDIP ingin hattrick menang di pemilihan presiden,” katanya kepada wartawan, kemarin.

Karena itu, dia berharap, PDIP harus tetap mendorong kader terbaiknya dan memberikan ruang kepada seluruh kadernya untuk tampil di publik. Setelah itu biar diuji publik, siapa yang terbaik diantaranya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini