Ngajak Warga Lawan Penyekatan Mudik, Eks Petinggi FPI Kena Batunya, Jadi Tersangka!

Ngajak Warga Lawan Penyekatan Mudik, Eks Petinggi FPI Kena Batunya, Jadi Tersangka! Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A

Mantan Wakil Ketua (Waka) Front Pembela Islam (FPI) Aceh, Wahidin alias Abi Wahid ditangkap personel Polda Aceh terkait unggahannya di media sosial yang bernada provokatif dengan ajakan menerobos penyekatan perbatasan untuk mudik.

Wahidin juga meminta warga agar tak takut dengan adanya penjagaan yang dilakukan oleh petugas dan malah menyarankan untuk melawan agar warga bisa sampai ke kampung halaman.

“Jangan pernah takut dengan rezim setan iblis yang telah dikuasai oleh komunis mereka bekerja untuk komunis. Jaga persatuan pupuk persatuan lawan rezim yang dzalim ini. Terobos semua tempat-tempat penyekatan dan perbatasan, Indonesia milik kita,” kata Wahidin dalam video yang berdar di WAG belum lama ini.

Baca Juga: Come Back! Tiba-Tiba Abu Janda Ngaku Ogah Masuk Surga Kalau Ada Si Pentolan FPI Rizieq dan...

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh Komisaris Besar Polisi Margiyanta mengatakan, pihaknya sudah menetapkan eks Wakil Ketua FPI Aceh tersebut sebagai tersangka. Ia dijerat dengan UU ITE. Wahidin ditangkap pada Sabtu sore, 8 Mei 2021 di kediamannya di Desa Lampaya, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

“Sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan,” kata Margiyanta saat dikonfirmasi, Senin, 10 Mei 2021.

Penangkapan itu berdasarkan surat perintah penangkapan nomor SP Kap/13/V/RES 2.5/2021. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti, yakni satu unit handphone merek Vivo Y66 warna hitam dan satu buah postingan video yang berdurasi 01.22 menit pada tanggal 08 Mei 2021 pukul 10.37 WIB yang diduga provokasi tentang ajakan menerobos pemudik di WAG.

Atas unggahannya yang bernada provokatif, ia dijerat dengan Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45a Ayat (2) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

"Tersangka kita kenakan Undang Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik)," kata Margiyanta.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Viva Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Viva. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Viva.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini