Harga CPO Tetap Oke di Minggu Pertama Mei 2021

Harga CPO Tetap Oke di Minggu Pertama Mei 2021 Kredit Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas

Melewati pekan I Mei 2021, harga rata-rata minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada CIF Rotterdam basis tercatat menguat hingga 142 persen dari yang sebelumnya US$520,5 per MT atau setara dengan Rp7.391.100 (kurs Rp14.200) menjadi US$1.262 per MT atau setara dengan Rp17.920.400 per MT (kurs Rp14.200) dibandingkan periode yang sama secara y-o-y.

Jika dibandingkan pekan lalu, average price yang tercatat tersebut melemah1,6 persen dari yang sebelumnya sebesar US$1.283 per MT atau setara dengan Rp18.218.600 per MT (kurs Rp14.200).

Baca Juga: CPO di Bulan Keempat 2021: Bukan April Mop

Meskipun penyebaran pandemi Covid-19 masih masif di Indonesia, harga rata-rata CPO tersebut berada jauh di atas level harga potensial yang sebesar US$700 per MT. Tidak hanya itu, harga CPO saat ini juga membawa harapan baru terhadap harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.

Kenaikan harga CPO dipicu oleh naiknya harga komoditas pertanian lain dan melesatnya harga minyak mentah. Harga si emas hitam terutama untuk kontrak Brent semakin mendekati US$70/barel setelah stok minyak mentah Amerika Serikat dilaporkan turun 8 juta barel di akhir April 2021. Minyak sawit serta minyak nabati lain tidak hanya digunakan untuk keperluan konsumsi saja, tetapi juga untuk energi.

Minyak nabati umum digunakan sebagai bahan campuran dalam pembuatan biodiesel pengganti bahan bakar fosil. Oleh karena itu, saat harga bahan bakar fosil menguat, maka harga CPO juga turut mengalami kenaikan. 

Penguatan harga CPO saat ini juga dipicu oleh perayaan bulan Ramadan dan Idulfitri pada negara-negara Asia, terutama Indonesia dan Malaysia. Harga minyak sawit internasional mencatatkan kenaikan 10 bulan berturut-turut, karena kekhawatiran yang masih ada atas tingkat persediaan yang ketat di negara-negara pengekspor utama bertepatan dengan pemulihan bertahap dalam permintaan impor global.

Membaiknya cuaca juga akan berdampak positif bagi komoditas substitusi CPO, yakni biji kedelai. Perbaikan output biji kedelai dari negara-negara produsen seperti Amerika Serikat dan Brazil, serta menurunnya permintaan akan memicu penurunan harga, baik untuk biji kedelai maupun CPO.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan, harga minyak sawit akan tetap kuat hingga semester pertama tahun 2021 ini.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini