Kalau Terkontrol Baik, Tingkat Keseraman Covid-19 Tidak Selevel HIV atau MERS

Kalau Terkontrol Baik, Tingkat Keseraman Covid-19 Tidak Selevel HIV atau MERS Kredit Foto: Pixabay/Cromaconceptovisual

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, virus Corona tidak separah virus-virus lain seperti HIV penyebab AIDS atau virus MERS yang dulu menyerang Timur Tengah. Fatality rate Covid-19 tidak setinggi dua virus tersebut.

"Asal bisa teridentifikasi dan dirawat dengan cepat, Insyaallah, sembuh," ujar Budi dalam rapat koordinasi micro lockdown yang digelar virtual, belum lama ini.

Baca Juga: Senang Dengarnya! Menkes Bilang 80% Rakyat Indonesia Siap Disuntik Vaksin Covid-19, yang Artinya...

Menurut Budi, hitung-hitungannya, dari 100 orang yang terpapar Covid-19, hanya 20 yang butuh dirawat di rumah sakit, dengan 5 persen di antaranya dirawat di ruang ICU. Sementara 80 persen sisanya, cukup menjalani isolasi mandiri di rumah, dan akan sembuh sendiri.

Tapi Covid-19 akan jadi masalah besar ketika laju penularannya tak terkendali. Orang yang terinfeksi dan butuh dirawat, jadi melebihi kapasitas rumah sakit. Hal itu yang saat ini terjadi di India.

Karena itu, dipaparkan Budi, pemerintah melakukan upaya untuk mengontrol laju penularan virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China itu.

Untuk mencapai tujuan tersebut, beberapa upaya harus dilakukan. Salah satunya, vaksinasi. Vaksinasi bisa menghambat laju penularan karena semakin banyak orang yang imunitasnya terbentuk.

"Tapi ada dua lagi yang sangat penting, tapi kadang-kadang suka terlewat. Padahal penting sekali, dan ini harus dijalankan bersama-sama dengan vaksinasi. Malahan harusnya dapat perhatian yang lebih besar dari vaksinasi," beber eks Direktur Utama Bank Mandiri itu.

Dua strategi itu adalah disiplin protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak), serta pelaksanaan 3T alias testing, tracing, dan treatment.

Dalam menerapkan protokol kesehatan, Pemerintah Daerah (Pemda) diminta Budi untuk mendisiplinkan masyarakat. Minimal, untuk memakai masker. Protokol kesehatan yang satu ini, katanya, bisa mencegah penularan hingga 95 persen.

"Ini tidak susah sebenernya. Jauh lebih mudah daripada nyuruh orang datang untuk disuntik atau dirawat di rumah sakit. Tapi mendisiplinkan masyarakat memang susah," sesal Budi.

Kemudian, dalam pelaksanaan 3T, Pemerintah Daerah (Pemda) juga mesti disiplin. Jika ada yang terkonfirmasi positif Covid-19, kepala daerah harusnya langsung melacak kontak erat orang tersebut.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan penelusuran terhadap 30 kontak erat dalam waktu 72 jam.

"Kalau nggak bisa, 15 kontak erat. Kalau nggak bisa juga, 10. Tapi jangan 1, 2, apalagi nggak dicari. Semua kontak erat itu harus dites. Kalau positif, segera diisolasi. Ini bisa menurunkan laju penularan," imbaunya.

Budi menyebut, beberapa negara yang tidak menjalankan vaksinasi, bisa sukses mengendalikan pandemi hanya dengan bekal dua strategi itu. Kehidupan masyarakat di beberapa negara itu kini relatif normal. "Contohnya Australia, dan Korea Selatan," ungkapnya.

Karena itu, Budi sampai mengulang tiga kali imbauan bagi kepala daerah untuk mengedukasi warga agar memakai masker dan mengintensifkan 3T di akhir paparannya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini