Bikin Angka Kelahiran di Xinjiang Turun Drastis, China Dituding Genosida Etnis Uighur Lagi

Bikin Angka Kelahiran di Xinjiang Turun Drastis, China Dituding Genosida Etnis Uighur Lagi Kredit Foto: Flickr/TravelingMipo

Kebijakan tekanan atau kekerasan oleh China di wilayah Xinjiang, telah menyebabkan penurunan tajam pada tingkat kelahiran warga Uighur dan etnis minoritas lainnya. Ini menambah bukti adanya genosida.

Demikian diungkap lembaga think tank Australia, The Australian Strategic Policy Institute (ASPI), dikutip Reuters. Dalam laporannya yang mengutip data resmi China, lembaga ini menyatakan, telah terjadi "penurunan tajam angka kelahiran resmi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Xinjiang sejak 2017", ketika China memulai kampanye untuk mengontrol angka kelahiran di wilayah tersebut.

Tingkat kelahiran Xinjiang turun hampir setengah dari 2017 hingga 2019, dan negara-negara di mana populasinya didominasi Uighur atau kelompok minoritas lainnya mengalami penurunan yang jauh lebih tajam daripada negara lain. Analisis ASPI didasarkan pada data pemerintah China, termasuk angka populasi regional yang dirilis pada Maret.

Baca Juga: Manfaatkan Facebook, Hacker China Sukses Target Muslim Uighur di Luar Negeri

"Analisis kami didasarkan pada pekerjaan sebelumnya dan memberikan bukti kuat, kebijakan pemerintah China di Xinjiang mungkin merupakan tindakan genosida," katanya.

Laporan ASPI mengatakan, tingkat kelahiran di negara-negara dengan populasi penduduk asli 90 persen atau lebih menurun rata-rata 56,5 persen dari 2017 hingga 2018. Angka ini jauh lebih banyak daripada daerah lain di Xinjiang dan China selama periode yang sama.

Denda, pengasingan, atau ancaman pengasingan, adalah di antara metode yang digunakan pihak berwenang untuk mencegah kelahiran, menurut laporan tersebut.

 

Kementerian Luar Negeri China tidak segera menanggapi permintaan komentar tentang laporan tersebut. China menyatakan, perubahan tingkat kelahiran terkait dengan perbaikan kesehatan dan kebijakan ekonomi, dan menolak keras tuduhan genosida.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini