Pengunjung Pantai Ancol Membludak, PSI Punya Senjata Baru Serang Anies Baswedan

Pengunjung  Pantai Ancol Membludak, PSI Punya Senjata Baru Serang Anies Baswedan Kredit Foto: Instagram/Anies Baswedan

Melihat Ancol sempat membludak, PSI seperti punya senjata baru untuk menyerang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Politisi PSI yang duduk di DPRD DKI Jakarta William Aditya Sarana menuding, membludaknya Ancol menunjukkan Anies sudah kecelongan.

Pada hari kedua Lebaran kemarin, pengunjung tempat wisata Taman Impian Jaya Ancol membludak. Jumlah yang terdata hingga pukul 15.00 WIB, Jumat (14/5), yang liburan di Ancol mencapai 39 ribu orang. Dalam foto-foto yang beredar di media sosial, terlihat wisatawan berkerumun di pantai dan berenang bareng. Banyak warganet membandingkan kondisi Ancol tersebut dengan ritual masyarakat India di Sungai Gangga yang menyebabkan tsunami Covid-19 di negeri Bollywood tersebut.

Baca Juga: Mas Anies, Denger Nih! Penutupan Ancol Terlambat, Giliran Ziarah Kubur Dilarang Sejak Awal

Akibat kejadian itu, hari ini Ancol memutuskan menutup tempat wisata. Ancol akan buka kembali Selasa (18/5), dengan aturan pengunjung dilarang berenang di pantai.

“Pak Anies kecolongan. Seharusnya beliau sadar bahwa tempat wisata seperti Ancol akan membludak karena masyarakat tidak bisa mudik,” ucap William, Sabtu (15/5).

Dia lalu membandingkan kebijakan Pemerintah Pusat yang melarang mudik Lebaran dengan kebijakan Anies. Kata dia, Anies harusnya mengawasi tempat-tempat wisata agar tidak terjadi kerumunan yang berpotensi menyebarkan Covid-19.

“Libur panjang seperti Lebaran biasanya akan memicu peningkatan kasus Covid-19. Pemerintah pusat sudah benar menyetop mudik. Namun, jika tempat wisata dalam kota tidak diawasi, maka semuanya bisa gagal,” omelnya, ke Anies.

William mengatakan, kebijakan menutup Ancol seharusnya diambil sejak awal. Bukan baru di hari ketiga, setelah terjadi penumpukan pengunjung pada hari kedua.

“Kalau sudah viral, barulah ada tindakan. Hal ini tidak bisa terus dibiarkan. Pak Anies harus lebih fokus dalam menangani pandemi Covid-19. Utamakan dulu keselamatan warga Jakarta,” ucapnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini