Bikin Geger Publik, Pakar Virus India Putuskan Resign dari Satgas Covid-19 Pemerintah

Bikin Geger Publik, Pakar Virus India Putuskan Resign dari Satgas Covid-19 Pemerintah Kredit Foto: Antara/REUTERS/Danish Siddiqui

Seorang virologi India terkemuka telah mengundurkan diri dari forum penasihat ilmiah yang dibentuk oleh pemerintah untuk mendeteksi varian virus corona. Dia memilih untuk mundur beberapa pekan setelah mempertanyakan penanganan pandemi oleh pihak berwenang.

Shahid Jameel, ketua kelompok penasihat ilmiah di forum yang dikenal sebagai INSACOG, menolak memberikan alasan pengunduran dirinya. Jameel menambahkan bahwa dia mengundurkan diri pada Jumat (14/5/2021).

Baca Juga: Banyak Kasus Tidak Dilaporkan, Ahli Bilang India Kini Tengah Benar-benar Berada di Titik Kritis

"Saya tidak wajib memberikan alasan," kata Jameel dalam pesan teks.

Renu Swarup, Sekretaris Departemen Bioteknologi yang membawahi INSACOG, tidak segera menanggapi permintaan komentar. Menteri Kesehatan Harsh Vardhan juga tidak memberikan tanggapan.

Anggota INSACOG lainnya mengaku tidak mengetahui ada ketidaksepakatan langsung antara Jameel dan pemerintah. Seorang ilmuwan terkemuka pemerintah yang menjadi bagian dari forum tersebut mengatakan kepergian Jameel tidak akan menghambat kinerja INSACOG untuk melakukan pemantauan varian virus corona.

Reuters melaporkan awal bulan ini bahwa INSACOG, dan Konsorsium Genetika SARS-CoV-2 India, memperingatkan pejabat pemerintah pada awal Maret tentang varian baru dan lebih menular dari virus corona yang terjadi di negara itu.

Varian baru tersebut yaitu B.1.617. Varian baru virus corona adalah salah satu alasan India saat ini berjuang melawan lonjakan kasus Covid-19 yang terburuk di dunia.

Ketika ditanya mengapa pemerintah tidak menanggapi temuan tersebut dengan lebih tegas, misalnya dengan membatasi pertemuan besar, Jameel mengatakan kepada Reuters bahwa dia khawatir bahwa pihak berwenang tidak cukup memperhatikan bukti saat mereka menetapkan kebijakan.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini