Makin Banyak yang Maki-maki di Medsos, Politisi sampai Artis Geleng-geleng Kepala

Makin Banyak yang Maki-maki di Medsos, Politisi sampai Artis Geleng-geleng Kepala Kredit Foto: Unsplash/Joshua Hoehne

Pengacara kondang Hotman Paris tak ketinggalan berkomentar. Dia tak terima melihat petugas kepolisian dimaki-maki oleh orang yang mau melanggar aturan pemerintah. Ia mengunggah foto bagian belakang mobil Hesti dan meminta polisi untuk menindak tegas kejadian ini. "Bapak Kapolri dan Kapolda Jawa Barat: mohon perintahkan agar proses hukum ditempuh terhadap penumpang mobil ini," tulis Hotman, di akun instagramnya.

Politisi PPP Lukman Hakim Saifuddin juga geleng-geleng kepala dengan kejadian ini. Mantan Menteri Agama ini menegaskan, ekspresi marah itu buruk sekali dan bikin malu di kemudian hari.

"Kini ku makin tahu, mengapa banyak orang bijak berilmu tak ada yang mengumbar marah berselimutkan nafsu. Sebab ekspresinya jadi buruk sekali dan bikin malu," tulisnya, di akun Twitter @lukmansaifuddin.

Baca Juga: Alhamdulillah, Erdogan Janji Segera Kebut Upaya Diplomatik Setop Agresi Israel

Aksi ini juga ikut dikomentari netizen. Menurut akun @Kusyani16 umpatan membuat pahala puasa selama 30 hari hilang sia-sia. "Sebulan nahan nafsu amarah, habis Lebaran dilepas lagi. Nggak ada yang nyangkut tuh hikmahnya," cuitnya. "Habis marah-marah langsung minta maaf soalnya masih hari-hari Lebaran," timpal @be_my_boo. "Marah mulu bawaannya soalnya punya utang di mana mana jadi pusing," sahut @anonymousexch.

Ada juga netizen yang mengibaratkan emak-emak yang suka maki-maki seperti penagih utang pinjaman online. "Banyak emak-emak yang lagi marah-marah. Jangan-jangan masa remajanya pernah bekerja jadi DC pinjol," ledek @pinjollaknat. "Atau mungkin bisa jadi korban pinjol yang sering diteror," sahut @adennugroho557.

Sedangkan akun @AggDermawan menduga, masyarakat yang gemar memaki karena sering menonton film sinetron. "Dampak sinetron beh," ucapnya. "Gara-gara ketupat sudah habis kali," pungkas @AwongFals. "Efek telat THR batin," seloroh @RohmansyahSuja1.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Tampilkan Semua
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini