Ini Dia! Keuntungan dari Merger Gojek dan Tokopedia

Ini Dia! Keuntungan dari Merger Gojek dan Tokopedia Kredit Foto: GoTo

Setelah beredar isu merger antara dua perusahaan digital besar di Indonesia sejak beberapa waktu lalu, akhirnya Gojek dan Tokopedia resmi mengumumkan kolaborasi mereka sebagai Grup GoTo pada Senin (17/5/2021) lalu.

Lantas, apa tujuan kedua perusahaan besar tersebut melakukan merger?

Baca Juga: Cerita Nadiem Makarim Dirikan Gojek, dari Pesan Lewat Call Center hingga Rambah Aplikasi Canggih

Nailul Huda, Kepala Center of Innovation and Digital Economy Indef, menjelaskan dua motif utama perusahaan melakukan merger dan akuisisi saat dihubungi oleh Warta Ekonomi, Selasa (18/5/2021). Menurutnya, merger dan akuisisi merupakan strategi yang banyak digunakan oleh perusahaan digital untuk mengefisienkan biaya operasional perusahaan serta meningkatkan tingkat valuasi.

"Perusahaan digital punya tujuan yang hampir serupa, yaitu membangun sebuah ekosistem. Agar dapat ekosistem yang kompleks dan teknologi efisien, perlu beberapa strategi termasuk merger dan akuisisi. Untuk Gojek dan Tokopedia nantinya ada beberapa pelayanan serupa yang bisa digabungkan agar biaya operasional semakin murah," jelas Huda.

Selain itu, merger juga berfungsi untuk menggabungkan nilai valuasi kedua perusahaan. Menurut Huda, merger Gojek dan Tokopedia dapat meningkatkan nilai valuasi hingga US$20 miliar sampai US$25 miliiar atau setara dengan Rp285 triliun hingga Rp357 triliun (kurs Rp14.294 per dolar AS).

Peningkatan nilai valuasi ini akan berdampak pada minat investor untuk menanam saham di Grup GoTo. Huda melihat merger ini sebagai salah satu strategi menuju IPO.

"Semakin tinggi valuasi, semakin percaya investor untuk taruh saham. Nah, merger ini meningkatkan harga valuasi dari Gojek dan Tokopedia. Jadi istilahnya ini salah satu strategi sebelum IPO untuk meningkatkan harga saham ketika mau IPO," kata peneliti Indef tersebut.

Namun, menurutnya, ada kemungkinan IPO Grup GoTo akan mengalami kenaikan harga di awal dan turun setelah beberapa waktu. Hal ini serupa seperti yang dialami Uber beberapa waktu lalu. 

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini