Pandemi Bikin Orang Hobi Nonton TV, Kekayaan Miliarder Ini Jadi Moncer Rp92 Triliun!

Pandemi Bikin Orang Hobi Nonton TV, Kekayaan Miliarder Ini Jadi Moncer Rp92 Triliun! Kredit Foto: REUTERS/Kimberly White

Miliarder Anthony Wood telah merasakan kekayaannya melonjak berkat perusahaan video streaming-nya, Roku, melaporkan pertumbuhan pendapatan tertinggi sejak go public pada tahun 2017. Wood semakin kaya USD645 juta (Rp9,2 triliun) berkat saham perusahaannya meroket 12 persen. Kekayaan Wood sekarang mencapai USD6,4 miliar (Rp92 triliun), menurut perkiraan Forbes.

Dilansir dari Forbes di Jakarta, Kamis (20/5/21) saham Roku sempat naik sebentar sebanyak 15% pada hari Jumat. Pendapatan kuartal pertama platform video streaming itu tumbuh 79% dari tahun lalu, menjadi lebih dari USD574 juta (Rp8,2 triliun). Roku juga menaikkan panduan pendapatan kuartal kedua.

Baca Juga: Miliarder Termuda Dunia 'Bakar' Rp100 Triliun Uang Kripto, Ada Apa?

Perusahaan mendapatkan dorongan besar selama pandemi Covid-19 dengan menambahkan 2,4 juta akun aktif dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, sehingga jumlah total akun menjadi 53,6 juta.

Wood memulai dan kemudian menjual perusahaan DVR ReplayTV, pesaing awal TiVo sebelum akhirnya mendirikan Roku pada tahun 2002. Perusahaan ini terkenal karena memproduksi pemutar media digital yang dapat disambungkan pengguna ke TV mereka untuk mengalirkan konten. Meski demikian, sebagian besar pendapatannya berasal dari menjual iklan di saluran streaming.

Roku telah fokus mengembangkan bisnis periklanannya seiring dengan semakin banyaknya pemasar yang beralih ke media digital. Perusahaan baru-baru ini mengakuisisi bisnis periklanan video Nielsen dan telah berinvestasi pada lebih banyak konten. Roku juga membeli hak untuk menonaktifkan layanan streaming konten Quibi dengan harga di bawah USD100 juta (Rp1,4 triliun) pada Januari 2021.

Seperti banyak perusahaan lain yang mendapat manfaat selama Covid-19, saham Roku meroket hingga naik lebih dari 100% tahun lalu saja. Kekayaan CEO Roku, Wood, melonjak hingga USD5 miliar (Rp71 triliun) sejak April 2020.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini