Gobel Menapak Jejak Soekarno di Uzbekistan

Gobel Menapak Jejak Soekarno di Uzbekistan Kredit Foto: Istimewa

Di stasiun Samarkand, Kamis, 20 Mei 2021, dua orang sudah menunggu Rachmat Gobel. Wakil Gubernur dan Mufti Besar Samarkand. Mereka menyambut khusus kedatangan Gobel. Tak hanya itu, sebagai rasa hormat, mereka juga memotong seekor sapi besar di kawasan makam Imam Bukhari.

Ya, Gobel hendak berziarah ke kuburan perawi hadis-hadis Rasulullah tersebut. Kitab hadis Imam Bukhari adalah yang terlengkap dan terbanyak dari seluruh perawi, termasuk kutubus sittah (kitab yang enam). Imam Bukhari lahir di kota Bukhara, dekat Samarkand. Dua kota ini terletak di Uzbekistan.

Kawasan kuburan Imam Bukhari sedang direnovasi, sehingga kawasan itu ditutup untuk umum. Selain itu juga sedang dibangun masjid yang akan mampu menampung 40 ribu jamaah. Namun Gobel adalah pejabat negara Indonesia, wakil ketua DPR RI, karena itu ia tetap bisa berziarah dan berdoa di kuburan Imam Bukhari. Sedangkan anggota rombongan hanya bisa berkunjung ke museumnya yang megah dan dibangun pada 2017 dan diresmikan pada 2018.

Baca Juga: Rachmat Gobel: Amnesti Juga ke Ekonomi Kecil, Jangan Fokus ke Ekonomi Raksasa

Pada Minggu, 16 Mei 2020, Gobel tiba di Tashkent, ibukota Uzbekistan. Dari bandara, Gobel langsung menuju kantor Deputi Perdana Menteri/Menteri Pariwisata dan Olahraga Uzbekistan, Abduhakimov Aziz Abdukakharovich.

Dalam perjalanan muhibah ini, Gobel didampingi sejumlah anggota DPR RI, yaitu Ketua Komisi VII Sugeng Suparwoto, Ketua Badan Legislasi Supratman Andi Agtas, Willy Aditya, Muhammad Syafrudin, Taufik Basari, Heri Gunawan, dan Ahmad Baedowi. Juga ada Dirjen Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin Muhammad Khayam, Staf Ahli Menteri Perdagangan Arlinda, dan Direktur Utama PT Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi.

Semula, Gobel tak menjadwalkan pertemuan dengan Abduhakimov. Namun yang bersangkutan rupanya mengetahui rencana kedatangan Gobel. Karena itu ia meminta waktu khusus untuk bertemu Gobel. Pertemuan malam itu diakhiri dengan bermain pingpong bersama. Karena keduanya sama-sama lulusan Jepang, maka Gobel dan Abduhakimov juga sempat berbincang-bincang dengan Bahasa Jepang.

Saat bertemu Abduhakimov, Gobel disuguhi presentasi oleh stafnya, kepala Departemen Pengembangan dan Inovasi Kepariwisataan, Temur Mirzaev. Salah satu presentasinya adalah kliping koran Uzbekistan, Qizil Uzbekistan, edisi Rabu 5 September 1956. Koran ini milik partai komunis. Ada foto Bung Karno yang menjadi headline di halaman 1 koran itu. Foto itu diambil saat Sukarno baru tiba di Bandara Tashkent, ibukota Uzbekistan. Judulnya, Presiden Sukarno di Tashkent. Tentu dengan huruf Rusia dan Bahasa Rusia, dan di bawahnya dengan huruf lebih kecil menggunakan Bahasa Indonesia.

Gobel, dengan pakaian dan topi tradisional Uzbekistan, dan Abduhakimov pun berfoto bersama di depan layar bergambar kliping koran tersebut. Saat itu Uzbekistan masih di bawah kekuasaan Uni Soviet. Uni Soviet yang sedang gencar mengembangkan pengaruhnya di dunia, sedang mendekat ke Presiden Sukarno. Saat itu Sukarno merupakan magnet dunia karena pengaruhnya dalam Konferensi Asia Afrika 1955 dan pemimpin yang disegani di dunia ketiga. Dengan posisi seperti itu, pemimpin Soviet, mengundang Sukarno untuk datang ke Moskow. Namun Sukarno mengajukan syarat: Temukan kuburan Imam Bukhari karena ia ingin berziarah ke sana. Walau bagi negeri komunis, yang memerangi kepercayaan religi serta serba materialisme, namun pemimpin Soviet menyanggupi persyaratan Sukarno tersebut.

Singkat cerita, akhirnya Sukarno bisa berziarah ke makam Imam Bukhari di Samarkand. Nah, kunjungan itu dimuat di koran Uzbek, yang dipresentasikan di depan Gobel. Temur Mirzaev, membenarkan kisah persyaratan yang diajukan Bung Karno tersebut. Ia juga mengakui bahwa kuburan Imam Bukhari menjadi kuburan telantar sebelum kedatangan Sukarno.

Saat ke museum Imam Bukhari, Kepala Departemen Ilmu Hadis pada Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Bukhari, Amonov Barot, menyatakan, “Makam ini sudah dibuktikan otentik sebagai kuburan Imam Bukhari.” Ia pun bercerita tentang persyaratan kunjungan Presiden Sukarno tersebut. “Pemerintah Soviet mengumpulkan para ahli dan ulama untuk membuktikan bahwa ini benar-benar kuburan Imam Bukhari,” katanya.

Karena itu, ia mengakui jasa Sukarno dalam penemuan dan otentifikasi kuburan Imam Bukhari tersebut. Uzbekistan adalah negeri yang mayoritas beragama Islam, sekitar 88 persen muslim dan 9 persen Kristen. Negeri di Asia Tengah ini dihuni mayoritas suku Uzbek, sekitar 82,9 persen. Lainnya adalah Tajik, Rusia, Kazakh, Karakalpak, Tatar, Kyrgyz, Koryo-Saram, Turkmen, dan lain-lain. Uzbekistan menyatakan merdeka dan lepas dari Soviet pada 1991. Negeri ini berpenduduk 34,6 juta jiwa.

Hasil Kunjungan Gobel

Selain bertemu Abduhakimov dan ziarah ke makam Imam Bukhari, Gobel juga melakukan pertemuan dengan Ketua DPR Uzbekistan Mirzamakhmudov Jurabek, bertemu Deputi Perdana Menteri/Menteri Investasi dan Perdagangan Luar Negeri Umurzakov Sardor Uktamovich, serta pertemuan dengan perusahaan pupuk Uzbekistan. Saat bekunjung ke parlemen Uzbekistan, Gobel diberi kesempatan masuk ke ruang sidang utama. Saat itu, mereka sedang melakukan sidang, yang sebagian mengikuti secara virtual. Kedatangan Gobel disambut standing ovation, bertepuk tangan sambil berdiri, yang cukup lama.

Dalam kunjungan ini, kedua pihak bersepakat untuk mempererat kerja sama dan hubungan kedua negara. Abduhakimov, bahkan mengajukan permintaan khusus: Uzbekistan dikirim pelatih bulutangkis dari Indonesia. Ia juga menjanjikan diskon khusus untuk wisatawan dari Indonesia serta penguatan wisata religi. Jurabek mengajukan kerja sama pertukaran pelajar. Perusahaan pupuk menawarkan ekspor kalium untuk pembuatan pupuk serta meminta impor karet alam dari Indonesia untuk pembuatan ban. Sedangkan dengan Sardor disepakati tentang pembentukan Joint Working Group (JWG).

“Kelompok kerja ini bekerja daily, konkret, dan segera,” kata Gobel. Menurut Gobel, neraca perdagangan kedua negara masih defisit untuk Indonesia. Indonesia banyak mengimpor bahan kimia untuk bahan baku pupuk. Sedangkan Indonesia bisa mengekspor produk elektronika, buah-buahan tropis, hasil-hasil pertanian, karet, dan sebagainya. Sedangkan Uzbekistan menawarkan kulit, sutera, kabel sintetis, dan sutera.

Gobel mengatakan, Indonesia banyak tertinggal dalam memanfaatkan peluang yang terbuka di pasar internasional. “Padahal jejak Presiden Sukarno sangat kuat di Uzbekistan dan mereka mengenang itu dengan baik,” katanya. Karena itu, sebagai wakil rakyat ia dan anggota parlemen yang lain akan terus mendorong peluang tersebut.

“Apalagi Uzbekistan masuk dalam jalur sutera yang kini sedang dihidupkan lagi oleh China dengan membangun jaringan kereta api. Uzbekistan adalah negara Asia Tengah yang memiliki posisi strategis. Karena itu di sini dulu melahirkan pemimpin besar Temur Lenk, ilmuwan besar Ulugh Beg, dan ulama besar Imam Bukhari,” kata Gobel. 

Saat ini di berbagai pelosok negeri, Uzbekistan sedang giat melakukan pembangunan. Kotanya rapi dan bersih dengan taman-taman yang luas dan indah. Warisan sejarah yang panjang sejak ribuan tahun yang lalu telah memberikan landasan yang kokoh bagi masyarakat dan bangsa untuk membangun nilai-nilai yang bermanfaat bagi kemajuan masa depan. “Kami 70 tahun di bawah Uni Soviet, kini kami harus membayar hutang kami dalam menebarkan manfaat bagi dunia seperti yang dilakukan Imam Bukhari,” kata Barot.

Perjalanan menapak jejak Sukarno oleh Rachmat Gobel ini harus ditindaklanjuti agar Indonesia bisa menyeimbangkan neraca perdagangannya yang defisit terhadap Uzbekistan. “Kita harus memperkuat perdagangan dan investasi kedua negara,” kata Gobel. Namun demikian, ia berpendapat hubungan kedua negara ini jangan hanya bertumpu pada government to government (G to G). Ia justru menyatakan pendekatan masyarakat ke masyarakat juga tak kalah efektifnya (P to P).

Karena itu ia juga akan menginisiasi terjalinnya sister city antara kota di Indonesia dan kota di Uzbekistan. Selain itu juga penting untuk terjadinya pertukaran pelajar Indonesia dan Uzbekistan. Yang tak kalah penting, Gobel berniat untuk mengajak ulama Indonesia untuk berziarah ke Imam Bukhari untuk belajar tentang kegigihan Imam Bukhari yang mengembara selama 40 tahun dalam mereguk ilmu di banyak negara. “Perlu membangun dialog antara ulama Indonesia dan Uzbekistan,” kata Gobel.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini