Tertekan Dikekang Xi Jinping, 3 Pendiri Raksasa Teknologi Ini Putuskan Resign dari Perusahaan

Tertekan Dikekang Xi Jinping, 3 Pendiri Raksasa Teknologi Ini Putuskan Resign dari Perusahaan Kredit Foto: Time.com

Dalam pengumuman mengejutkan, miliarder pendiri ByteDance Zhang Yiming mengumumkan pengunduran dirinya sebagai CEO perusahaan induk TikTok. Zhang menyebut ia akan beralih ke peran baru di raksasa media sosial China.

Perusahaannya, ByteDance terkenal karena aplikasi TikTok dan aplikasi agregasi berita Toutiao. Zhang, yang baru berusia 37 tahun, adalah miliarder teknologi China terbaru yang mundur dari perusahaannya dalam beberapa tahun terakhir.

Dilansir dari Forbes di Jakarta, Senin (24/5/21) Zhang yang memiliki kekayaan USD36 miliar (Rp515 triliun), mengumumkan bahwa Liang Rubo, yang saat ini memimpin departemen sumber daya manusianya, akan menjadi penggantinya.

Baca Juga: Bos TikTok Zhang Yiming Resign, Jadi Tanda 'Bendera Merah' bagi Teknologi China

Kedua pria itu akan bekerja sama dalam transisi dalam enam bulan ke depan. Zhang belum mengatakan apa peran barunya di ByteDance. Meski demikian, dia mengindikasikan bahwa akan bekerja lebih banyak pada filantropi dan strategi jangka panjang usai menyerahkan operasi sehari-harinya di ByteDance.

Sebelumnya, dua miliarder teknologi China terkemuka lainnya telah melakukan langkah serupa. Colin Zheng Huang, pendiri dan mantan CEO Pinduoduo, meninggalkan perusahaannya tahun ini. Pada bulan Maret, Huang yang memiliki kekayaan USD46,3 miliar (Rp663 triliun), mengumumkan bahwa dia melepaskan kursi ketuanya dan meninggalkan dewan, setelah mengundurkan diri sebagai CEO pada Juli 2020.

Pria berusia 41 tahun ini mendirikan Pinduoduo pada tahun 2015 setelah bertugas sebagai insinyur Google dan mengambil publik perusahaan di Nasdaq hanya tiga tahun kemudian. Pendapatan Pinduoduo tahun 2020 sebesar USD9,1 miliar (Rp130 triliun) meningkat 97% dibandingkan tahun 2019. Sekarang Pinduoduo membanggakan jumlah pembeli aktif tertinggi di China, dengan 788 juta pengguna.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini