Eranya Digitalisasi, Bank Ubah Fokus Strategi: Dari Kantor Cabang ke Layanan Digital

Eranya Digitalisasi, Bank Ubah Fokus Strategi: Dari Kantor Cabang ke Layanan Digital Kredit Foto: Post.

Dulu, bank mengedepankan kantor cabang sebagai aset terbesar dalam aspek pelayanan konsumen. Namun, saat ini kantor cabang justru menjadi beban (liability) karena membutuhkan biaya mahal.

Managing Partner Inventure Yuswohady menyatakan bank dipaksa “go digital” karena konsumen sudah banyak yang mengurangi kontak fisik dan hidup di zamanlow touch economy (strategi bisnis yang prosesnya bebas sentuhan). Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh tiga hal: pengaruh digital, pengaruh budaya golongan milenial, dan pandemi.

Baca Juga: Perluas Akses Nasabah, Bank Mandiri Kembangkan Layanan Online Manfaatkan 45.000 ATM Link

“Dulu BRI mengatakan ‘Kami punya cabang hingga ke pelosok Tanah Air’. Dulu BCA mengatakan ‘ATM kami paling banyak’. Kini era itu telah lewat,” ucapnya Yuswohady, dilansir dari laman pribadinya yuswohady.com, Senin (24/5/2021).

Menurut pengamatannya, kini bank beroperasi dengan model ASSET-LIGHT atau minim aset fisik. Aset berharga bank yang sebelumnya berpacu pada banyaknya kantor cabang, kini beralih ke digital technology, kemampuan analitik untuk mengolah data menjadi pengetahuan, dan penguasaan ekosistem.

"Karena itu, yang dikejar bank sekarang tak lagi soal banyaknya kantor cabang, banyaknya ATM, atau banyaknya pegawai. Tapi soal penguasaan ekosistem yang difasilitasi platform digital," tukasnya.

Hal ini dapat dilihat dari ambisi beberapa bank yang mengkampanye kan fitur digitalnya. Misalnya Bank Mandiri yang ingin menjadi super-app melalui Livin', BRI yang berambisi menjadi financial supermarket melalui BRImo, serta BCA yang mengincar posisi sebagai ecosystem leader melalui BCA Digital.

Lebih lanjut Yuswohady memaparkan ada hal yang menarik dari dampak digitalisasi terhadap perkembangan bank. Saat ini, mulai bermunculan beberapa bank baru yang tidak memiliki kantor cabang seperti Bank Jago yang justru mendapat valuasi amat tinggi.

Hal ini bisa jadi akan membuat banyak kantor cabang memutuskan untuk tutup dan budaya masyarakat akan beralih ke budaya cashless.

"Lima tahun lalu kita masih mengatakan cashless society sebagai sebuah mimpi. Kini mimpi itu kian jelas menjadi kenyataan," ujar Yuswohady.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini