Petani Sawit: PE Berdampak Positif terhadap Harga TBS

Petani Sawit: PE Berdampak Positif terhadap Harga TBS Kredit Foto: Antara/Akbar Tado

Pungutan ekspor (PE) sawit yang tertera dalam PMK 191/PMK.05/2020 dinilai sudah menghasilkan output nyata yang menguntungkan pelaku usaha industri perkebunan kelapa sawit. Tidak hanya meningkatkan devisa ekspor, implementasi pungutan ekspor juga berdampak positif terhadap harga tandan buah segar (TBS) sawit petani.

Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Manurung, mengakui, petani sangat menikmati terdongkraknya harga TBS sawit di 22 provinsi yang menjadi sentra sawit. Harga TBS yang tinggi mengakibatkan kegiatan ekonomi masyarakat juga makin menguat sehingga dapat menggerakkan perekonomian daerah. Ditambah lagi, berdasarkan data BPS diketahui, nilai tukar petani (NTP) di Provinsi Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat hingga Papua Barat yang menjadi sentra sawit semakin membaik.

Baca Juga: Entahlah, Uni Eropa Terus Cari-Cari Alasan Hambat Sawit Indonesia

Lebih lanjut Gulat mencontohkan, indikator keberhasilan khusus bagi provinsi penghasil sawit adalah jumlah angkutan truk, mobil pick up yang terjual dari dealer, serta adanya perusahaan leasing. Dari hasil survei Apkasindo di 22 provinsi sentra sawit, tidak ditemukan adanya kredit macet dan kehabisan stok truk di provinsi-provinsi tersebut.

"Jadi ahli ekonomi harus melihat dari segi indikator yang berbeda. Bukannya teoritik mulu, ini zaman new normal, harus dicapai dengan cara-cara yang di luar kenormalan juga," ungkap Gulat seperti dikutip dari laman sawitindonesia.com.

Gulat sepakat, tarif PE yang diimplementasikan saat ini tidak perlu diubah karena kehadirannya justru telah menguntungkan petani. Efek positif PE, pengusaha CPO sudah berpikir untuk hilirisasi dalam negeri karena PE untuk ekspor produk hilir dari CPO jauh lebih rendah.

"Artinya, industri di dalam negeri menggeliat, penyerapan tenaga kerja meningkat, dan yang pasti harga CPO dunia terdongkrak sehingga berdampak positif terhadap harga TBS," kata Gulat.

Ia juga mengakui, serapan sawit di dalam negeri menjadi kunci stabilnya harga TBS. Instrumen penyerapan sawit domestik ini yakni kebijakan mandatori biodiesel.

"Tidak ada lagi alasan tangki penyimpan PKS penuh. Yang terjadi adalah tangki penimbunan CPO negara importir CPO yang kosong. Karena CPO langka di pasar internasional sebagai imbas positif kebijakan PE dan biodiesel Indonesia. Jadi, jangan diputarbalikkan faktanya," pungkas Gulat.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini