Kisah Mereka yang Kehilangan Orang Tua Akibat Covid-19, Bersama Lindungi Lansia

Kisah Mereka yang Kehilangan Orang Tua Akibat Covid-19, Bersama Lindungi Lansia Kredit Foto: Rahmat Saepulloh

Lansia, kelompok usia paling rentan terhadap risiko tinggi bila terkena Covid-19. Satgas Covid-19 mencatat, angka kematian terhadap kelompok usia 46-59 tahun di Indonesia mencapai 49,4%, tertinggi di antara kelompok usia lainnya.

Kehilangan sosok orang tua akibat pandemi Covid-19 telah dirasakan oleh Eka Simanjuntak. Ayahnya, yakni Humala Simanjuntak dinyatakan meninggal duniapada 1 Maret 2021 lalu setelah menjalani perawatan di RS Hermina Kemayoran selama sebelas hari akibat terpapar Covid-19. Baca Juga: Vaksinasi dan Prokes 3M, Kunci Percepat Pemulihan Kesehatan

Eka mengatakan, sang ayah wafat dalam usia 85 tahun. Sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia, Eka mengatakan bahwa sang ayah dalam keadaan sehat, aktif, dan bahkan masih bekerja serta bepergian ke mana-mana dengan mengendarai kendaraan sendiri. Baca Juga: Prospek Pemulihan Ekonomi RI di Tengah Upaya Vaksinasi

Hingga pada suatu waktu, sang ayah jatuh di tangga dan dilarikan ke rumah sakit. Ayah Eka sempat didiagnosis mengalami masalah pada gendang telinga dan menjalani rawat jalan di rumah. Namun, sang ayah tak dapat mencium bau atau merasakan makanan saat makan.

"Kakak saya mulai curiga, ayah saya langsung di PCR dan hasilnya positif COVID-19. Kemudian langsung dirawat di RS Hermina Kemayoran hingga tutup usia," kata Eka secara tertulis, dilansir pada Minggu, 30 Mei 2021.

Padahal, menurut Eka, semasa hidup ayahnya selalu disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Tak jarang sang ayah mengingatkan orang di sekitar untuk selalu menerapkan prokes, mulai dari memakai masker hingga tak boleh berkumpul (berkerumun).

Hingga karena suatu keperluan, lanjut Eka, ayahnya pulang ke kampung. Disana ayahnya menyaksikan banyak orang yang tidak menjalankan protokol kesehatan, tidak memakai masker, tidak menjaga jarak tetapi tidak banyak yang tertular Covid-19. Nah pengalaman itulah yang membuat ayahnya kemudian mulai menganggap Covid-19 tidak terlalu berbahaya seperti yang selama ini disampaikan.

"Apalagi ayah saya merasa sehat dan masih bisa beraktivitas seperti biasa di usia yg sudah 85 tahun," ujarnya.

Untuk itu, Eka berpesan kepada siapapun untuk tidak menganggap remeh Covid-19 meski merasa sehat. Menurut Eka, ayahnya juga dari segi kesehatan tidak pernah ada masalah. Selama hidup ayahnya juga amat konsen dengan kesehatan, makan dan tidur teratur, serta rajin olahraga, namun akhirnya terpapar Covid-19 dan meninggal. Kita tidak pernah tahu dalam kondisi seperti apa kita tertular," pesan Eka.

Untuk itu, dia pun mengingatkan, vaksinasi saat ini merupakan satu-satunya cara menghindari Covid-19 selain menerapkan protokol kesehatan. Tidak alasan untuk tidak divaksin. Ada banyak rumor tentang efek samping setelah divaksin, tapi ada ratusan juta orang di seluruh dunia yang telah divaksin dan sejauh ini hampir semua baik-baik saja.

"Tidak ada yang lain. Vaksinasi mengurangi risiko, dan kalaupun masih tertular, proses penyembuhannya akan lebih baik dibanding dengan yang belum divaksinasi," tegas Eka.

Eka bukan satu-satunya orang yang harus kehilangan ayah akibat virus corona. Taufiq Dimas pun demikian. Pria asal Banyuwangi itu mengatakan sang ayah yang masuk dalam kelompok lansia meninggal akibat Covid-19. Untuk itu, ia mengatakan bahwa saat ini sudah bukan waktunya untuk meragukan Covid-19 ini benar ada atau tidak, terlebih sampai meremehkan pandemi ini.

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menjelaskan, lansia merupakan kelompok rentan (vulnerable), sama seperti bayi dan anak-anak. Daya tahan tubuh mereka lebih rendah dibandingkan dewasa muda, maka wajar saja jika terinfeksi, mereka lebih berat menghadapinya. Kemudian, lanjutnya, lansia sebagian besar memiliki komorbid, penyakit degeneratif yang diderita lansia karena penuaan. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kematian lansia karena COVID-19.

"Apalagi jika komorbidnya tidak terkontrol," ujarnya.

Masdalina juga menambahkan, karena mekanisme pertahanan diri pada lansia turun sangat jauh dibandingkan kelompok usia muda, jadi lebih banyak harus diberi dukungan dari luar untuk bertahan. Misalnya obat dan suplemen.

"Tentu saja vaksinasi dan protokol kesehatan juga harus jalan," kata Masdalina.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini