Prospek Era Kekuasaan Netanyahu Bakal Berakhir di Drama Politik Israel

Prospek Era Kekuasaan Netanyahu Bakal Berakhir di Drama Politik Israel Kredit Foto: Foto/Reuters

Ada kemungkinan masa berkuasa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan berakhir. Prospek usainya rentang waktu 12 tahun pemerintahan Netanyahu itu terlihat di kancah drama politik Israel, tetapi dengan catatan tertentu.

Laporan media setempat menyampaikan bahwa pemimpin oposisi Yair Lapid hampir berhasil mengumpulkan koalisi yang akan mengakhiri rentang 12 tahun Netanyahu. Dia memiliki mandat 28 hari untuk membentuk pemerintahan baru.

Baca Juga: Tak Peduli Netanyahu atau Bukan, Hamas Terus Tancap Gas Lawan Kezaliman Zionis Israel

Situasi itu terlihat setelah empat pemilihan parlemen yang tidak meyakinkan dalam dua tahun. Peluang keberhasilan Lapid sebagian besar terletak pada dukungan politisi sayap kanan Naftali Bennett yang bakal menjadi kunci.

Partai Yamina di bawah naungan Bennett memiliki enam kursi kunci di parlemen. Pada Ahad, Bennett diharapkan mengumumkan secara meluas tentang keputusannya bekerja sama atau tidak dengan Lapid, yang memimpin partai Yesh Atid.

Pertama-tama, Bennett harus mengumpulkan para legislator partainya sendiri untuk bergabung dengan Lapid. Kemudian, memutuskan apakah akan mendukung pemerintahan "perubahan" yang terdiri dari faksi-faksi dari kiri, tengah, dan kanan.

Setelah Pemilu 23 Maret yang berakhir dengan jalan buntu, pengelompokan yang beragam seperti itu masih berpotensi rapuh. Selama beberapa hari terakhir, Bennett pun masih mempertahankan kebungkaman di hadapan publik.

Sebelum pertempuran Israel-Gaza meletus pada 10 Mei, ada laporan bahwa kesepakatan Bennett dan Lapid telah diselesaikan. Kala itu, Bennett menegaskan bahwa dia meninggalkan upaya membentuk koalisi dengan tengah dan kiri.

Dengan berlanjutnya gencatan senjata, juga surutnya gelombang kekerasan antara warga Arab dan Yahudi, kemitraan Lapid-Bennett bisa kembali ke jalurnya. Meskipun, komentator politik Israel tidak menerimanya begitu saja.

Kolumnis politik Yossi Verter menulis di surat kabar sayap kiri Haaretz pada Ahad tentang hal itu. Menurut dia, pemerintahan perubahan yang anti-Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tetap bukan hal yang hendak dicapai.

Verter menulis, masih terlalu dini untuk merayakan kemenangan maupun menyesali kekalahan. Dia mempertanyakan apakah anggota parlemen Yamina dapat menahan tekanan dari kanan terhadap kesepakatan dengan Lapid.

Jika Lapid gagal mengumumkan pemerintahan pada Rabu, kemungkinan besar Pemilu kelima Israel bakal berlangsung. Sementara, Netanyahu yang merupakan ketua partai Likud membuat cicitan pada Jumat dengan tulisan "real alert".

Banyak yang berspekulasi bahwa itu menandakan Netanyahu merasakan tanda bahaya. Terdapat kemungkinan bahwa pemerintahan "sayap kiri" yang berbahaya mulai menjadi "kartu penentu", dikutip dari laman Middle East Monitor.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini