Tolak Politik Uang di Pilwu, Mayoritas Warga Eretan Wetan Dukung Supri

Tolak Politik Uang di Pilwu, Mayoritas Warga Eretan Wetan Dukung Supri Kredit Foto:

Kabupaten Indramayu bakal menggelar pemilihan kuwu (pilwu) secara serentak. Tercatat ada 171 Desa yang menggelar pesta demokrasi lokal itu. Lebih dari 600 bakal calon kuwu mendaftar untuk bisa dipilih oleh masyarakat desanya pada 2 Juni 2021.

Salah satu desa yang akan menggelar pemilihan pilwu adalah Eretan Wetan. Kawasan desa nelayan yang ada di Indramayu Barat. Total Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang sudah tercatat berdasar data dari Panitia Pemilihan Kuwu (Panpilwu) adalah 8.750 orang.

Dengan perincian 4490 laki-laki dan 4260 perempuan. Sementara jumlah suara tambahan yang telah disepakati yakni berjumlah 195. Suara itu nantinya akan dibagi dalam 22 TPS yang disebar hampir di setiap RT (Rukun Tangga).

Pesta demokrasi lokal yang akan memperebutkan kursi kepala desa Periode 2021-2027 kali ini akan diikuti oleh lima calon yang telah lolos berbagai tahapan.

Adu kuat pengaruh, saling serang opini di sosial media, isu perang kemenyan hingga praktik serangan fajar (money politik) pun menjadi tema-tema utama dalam demokrasi lokal di tingkat pemerintahan paling rendah dalam sebuah negara itu.

Namun, untuk konteks Desa Eretan Wetan, justru yang paling menonjol adalah masifnya kampanye tolak politik uang atau jual beli suara. Kampanye anti-politik uang itu digagas oleh para kalangan anak muda Eretan Wetan yang ingin adanya perubahan di desanya.

Sejak awal pendaftaran pilwu, kalangan anak-anak muda yang tergabung dalam wadah di blok desanya masing-maing itu bersepakat dan berswadaya menolak adanya politik uang dalam pilwu kali ini. Mereka bahkan gencar memasang spanduk dan menyebar selebaran bahaya politik uang yang pelakuknya bisa dijerat pasal tindak pidana. 

Eli Suhaeli, salah satu anak muda Eretan Wetan mengatakan, gerakan anak-anak muda itu baru terjadi di tahun ini. Tidak pernah di pemilihan periode sebelumnya ada gerakan yang masif soal kampanye anti-politik uang.

"Ya mereka (anak-anak muda) patungan untuk mencetak spanduk dan imbauan demi mengkampanyekan bahaya politik uang. Karena anak-anak muda itu rasional dan ingin perubahan," ujar Eli, (31/5). 

Bangkitnya gerakan anak-anak muda di desa itu juga menepis soal kuatnya perang kemenyan atau perang dukun yang lazim terjadi di desa-desa lain di Indramayu dan Cirebon. Pasalnya, anak muda saat ini lebih percaya pada sesuatu yang nyata dibanding klenik yang tidak jelas.

Hal itu diungkapkan oleh Wandi salah satu warga yang juga aktif di Pilwu Eretan Wetan. Menurutnya, di era digital ini juga memberi berkah kepada anak-ana muda di desa. Sebab, akses informasi sudah terbuka lebar. Mereka makin paham dengan peran dan kapasitasnya sebagai bagian penting dari desa.

"Anak muda Eretan Wetan itu tidak terlalu percaya dengan klenik dan dukun. Mereka rasional dan percaya bahwa perubahan itu dilakukan dengan perjuangan nyata. Sederhanaya mereka lebih percaya angka survei, karena ada quisoner dan metodenya. Dibanding dengan angka-angka hasil penerawangan dukun," ujarnya.

Wandi juga menyebutkan, soal hasil survei terakhir tim internal dari pasangan calon nomer 3, Supriyanto, sebagai calon kuwu termuda yang mengusung tagline Bangkit demi Perubahan. Untuk angka presentase popularitas, Supri (Panggilan Supriyanto, red) sudah sudah aman, karena mayoritas penduduk desa mengenal sosoknya. Bahkan, dengan gencarnya kampanye di media sosial juga makin membuat nama Supri dikenal oleh banyak kalangan perantau Eretan yang ada di Jabodetabek maupun luar negeri.

Sementara, lanjut Wandi, untuk elektabilitas (tingkat keterpilihan) calon nomor urut 3 ini juga berada di posisi yang tinggi. Karena berdasar survei internal yang digelar per blok atau setiap RW. Supri memiliki basis pendukung loyal yang susah untuk digoyahkan. Apalagi sudah banyak tokoh masyarakat dan kalang tokoh agama di desa baik yang tertutup maupun terang-terangan menyatakan dukungannya.

"Kami bisa katakan elektabilitas Supri sudah berada di posisi 55 persen. Angka ini kami yakini muncul karena realitas masyarakat yang mayoritas menginginkan adanya perubahan," ujar Wandi. 

Suara perubahan juga sebelumnya diungkapkan oleh banyak kalangan, Hadiyan salah satu warga Eretan Wetan yang kini berdomisili di Depok berharap ada perubahan untuk desanya. Karena itu sudah saatnya lahir para pemimpin baru yang memiliki semangat membangun dan didukung tanpa harus ada embel-embel uang.

“Kami di perantauan tentu tidak ingin tanah kelahiran kami harus dihadapkan pada banyak masalah yang tak kunjung selesai. Karena itu harus ada perubahan. Sebab bagaimanapun orang tua dan saudara-saudara kami butuh desa yang sehat dan layak untuk hidup,” ujar Hadiyan yang dikenal sebagai salah satu inisiator gerakan SaveEretan itu.

Alumni Madrasah Iptidaiyah (MI) Eretan Wetan yang sempat berprofesi sebagai ahli perminyakan itu juga mengaku sangat kagum dengan semangat kaum muda di desa yang mau bahu membahu dan tegas menolak politik uang dalam kontestasi pemilihan kuwu. Kesadaran itu jelas harus didukung, karena bagaimanapun masa depan desa ada pada tenaga anak-anak mudanya.

“Mereka sadar, bahwa uang Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu itu tidak akan menjamin masa depan desa menjadi lebih baik. Karena sejatinya mereka ingin perubahan yang berdampak positif bagi masa depan mereka,” ujarnya.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini