Yang Ngaku-Ngaku Dirinya Paling Terbaik di KPK, Mas Novel Dengerin Yah! Hanya Iblis yang...

Yang Ngaku-Ngaku Dirinya Paling Terbaik di KPK, Mas Novel Dengerin Yah! Hanya Iblis yang... Kredit Foto: Instagram/ferdinand_hutahaean

“Misalnya menyatakan ini buktinya, saya kemarin mau menangkap si A, mau mengusut si B tapi dilarang oleh pimpinan, baru bisa dinyatakan pelemahan. Bukan hanya puji diri,” jelasnya.

Ia juga menilai framing pelemahan KPK ini merugikan KPK untuk mengungkapkan sejumlah kasus.

“Klaim-klaim pelemahan ini justru mengorbankan KPK, bukan pegawai tak lolos. Karena citra KPK semakin buruk dibawah perhatian publik terhadap dugaan-dugaan kasus korupsi di APBD DKI Jakarta yang tak tersentuh. Ini ada apa? Menurut saya inilah bukti pelemahan KPK, karena apa? Jawabannya publik tau,” katanya. Baca Juga: Ditanya soal Nasib 75 Pegawai KPK yang Gagal di TWK, Begini Jawaban Firli

Baca Juga: Mas Novel, Pegawai KPK Resmi Jadi ASN Ya! Silahkan Kalau Mau Ngelamar, Lowongan OB Masih Terbuka

Tambahnya, menurut dia, indikator pelemahan KPK tidak bisa dengan hanya mengklaim dirinya yang paling terbaik tetapi disingkirkan.

“Apakah cukup hanya mengklaim diri sebagai paling berintegritas, paling bersih, paling baik paling suci? Karena tak lolos TWK kemudian diganti apa lantas layak disebut sebagai pelemahan KPK? Sungguh hanya iblis yang mampu memuji dirinya,” tegasnya.  

Diketahui Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri membantah sengaja menyingkirkan sejumlah pegawai tertentu, termasuk Novel Baswedan.

Hal tersebut terkait 75 pegawai KPK yang tak lulus TWK sebagai syarat menjadi aparatur sipil negara (ASN).

“Saya agak heran ada kalimat upaya menyingkirkan,” ujar Firli, Selasa kemarin.

Lanjutnya, ia menegaskan bahwa dirinya atau pimpinan KPK tidak sedang melakukan upaya menyingkirkan siapapun.

“Karena tes yang dilakukan, tes wawasan kebangsaan diikuti dengan instrumen yang sama, waktu pekerjaan sama, pertanyaan sama, modul sama,” tegasnya.

“Hasilnya memenuhi syarat 1.271 orang memenuhi syarat, yang nggak memenuhi 75,” ujarnya

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini