Kisah Perusahaan Raksasa: Kekarnya Baja POSCO, Bikin Perusahaan Korsel Ini Kumpulkan USD59 M

Kisah Perusahaan Raksasa: Kekarnya Baja POSCO, Bikin Perusahaan Korsel Ini Kumpulkan USD59 M Kredit Foto: Reuters

POSCO adalah perusahaan produsen baja papan atas di Korea Selatan (Korsel), yang merupakan salah satu perusahaan raksasa dunia menurut Fortune Global 500. Lahir tahun 1968 dengan nama Pohang Iron and Steel, perusahaan ini memulai kisahnya.

Namun untuk sekarang, Fortune mencatat pada 2020 bahwa POSCO berada di peringkat ke-194 dalam daftar perusahaan raksasa dengan total pendapatan (revenues) sebesar 55,59 miliar dolar AS. Peringkatnya turun dari urutan ke-171 di tahun 2019 yang saat itu pendapatannya senilai 59,22 miliar dolar AS.

Baca Juga: Kisah Perusahaan Raksasa: Pacific Insurance, Asuransi Besar dari China yang Raup Laba Fantastis

POSCO sedikit terobati ketika mengetahui keuntungannya naik 2,8 persen dari tahun lalu. Di 2020 ini, raksasa baja Korsel ini sukses mengantongi uang 1,59 miliar dolar AS untuk keuntungannya.

Sementara untuk aset perusahaan terlihat di angka 68,64 miliar dolar AS. Namun sayang capaian ini juga turun karena di 2019 POSCO sukses mengelola aset sebesar 70,60 miliar dolar AS.

Untuk yang terakhir, ada sebesar 38,44 miliar dolar AS dari total ekuitas saham yang dipegang oleh POSCO. Dan juga nilai POSCO di pasar atau market value-nya tembus 14,11 miliar dolar AS.

Sedikit gambaran singkat di atas sekiranya cukup untuk mengantar pada uraian kisah POSCO selanjutnya. Untuk itu, Warta Ekonomi pada Kamis (3/6/2021), akan mengulasnya secara ringkas seperti dalam artikel berikut ini.

Korsel pada dekade 1960-an tengah mewacanakan membangun pabrik baja yang terintegrasi. Bos Korean Tungsten Mining Company, purnawirawan Mayor Jenderal Tae Chun Park mendapat dukungan Presiden Korsel Chung Hee Park menyusun paket keuangan internasional, ini juga terkait dengan skema membangun pabrik yang mampu memproduksi 600.000 ton baja mentah per tahun. 

Korea International Steel Associates (KISA) pada Oktober 1967 menandatangani kontrak bersama pemerintah Korsel untuk tahun 1969 menyalurkan pinjaman hingga menyelesaikan pabrik baja tersebut tahun 1972. 

Di tahun 1968, Pohang Iron and Steel berdiri dengan menelan biaya mencapai 100 juta dolar AS. Karena berbagai masalah hadir mulai dari struktur konsorsium berbelit-belit hingga modal tidak dapat terkumpul, akhirnya pada 1969 KISA dibubarkan.

Dengan hadirnya perusahaan itu, Jepang mengaku memperoleh keuntungan ekonomi dan politik dari Korsel. Jepang telah bersepakat dengan pemerintah akan mengatur pinjaman yang mencakup sebagian besar modal yang dibutuhkan. Melalui Japan's Export-Import Bank, disediakanlah uang 52,5 juta dolar AS, dana kerja sama ekonomi sebesar 46,4 juta dolar, dan pinjaman komersial Jepang 28,5 juta dolar, dan terakhir sekitar 24 juta dolar didapatkan perusahaan dari sumber lain.

Pembuat baja Jepang yang terlibat dalam rencana tersebut, Nippon Kokan (NK) dan Nippon Steel Corporation (NSC) sangat diuntungkan dari pengaturan yang dibuat pada tahun 1970 untuk penyediaan teknologi dasar yang dibutuhkan.

Sejumlah kerja sama tersebut adalah bagian dari strategi pengembangan Korsel untuk menempatkan pabrik baru sejauh mungkin. Tujuannya untuk menciptakan pusat-pusat industri di seluruh negeri.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini