'Garuda Indonesia Harus Fokus pada Posisi Pure Airline Industry'

'Garuda Indonesia Harus Fokus pada Posisi Pure Airline Industry' Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Kemerosotan kinerja perusahaan penerbangan Garuda Indonesia sebagai salah satu BUMN beberapa tahun terakhir, besarnya beban utang, dan seiring dengan masa pandemi Covid-19 perlu dibenahi serius dengan pengalaman related business yang saya pahami.

Sejalan dengan visi dan misi Garuda Indonesia dengan pemahaman core business-nya, Garuda Indonesia harus fokus pada posisi pure airline industry seperti maskapai bintang lima lainnya.

Baca Juga: Garuda Indonesia Kritis Parah, Investor Kuras Dana Ratusan Juta Rupiah!

Langkah-langkah strategis pembenahan Garuda Indonesia dapat dilakukan dengan bedah operational, conceptual review, dan membangun tata kelola yang transparan dari seluruh jajaran manajemen, dewan komisaris, dan jajaran direksi dengan beberapa strategi pengelolaan organisasi yang dapat dilakukan antara lain:

1. Merestrukturisasi organisasi, merampingkan struktur organisasi, biaya dan me-review aset yang ada;

2. Mengoptimalisasikan resources yang tersedia, SDM dan aircraft operation serta tetapkan new role model of organization;

3. Melakukan analisis value chain dan semua kegiatan internal perusahaan dengan tujuan untuk mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu;

4. Meningkatkan strategi marketing atau promosi;

5. Melakukan analisis brand positioning yang diikuti oleh proses review terhadap rute penerbangan dan penetapan harga tiket;

6. Analisis market outlook dan mengambil langkah-langkah strategis yang inovatif;

7. Meningkatkan product quality, services, dan safety.

Strategi pengelolaan organisasi yang saya sebutkan di atas tentunya harus dilakukan oleh people management yang mumpuni, berakhlak, mempunyai integritas tinggi, dan mampu mengedepankan kepentingan untuk memajukan perusahaan tentunya dengan dukungan dari pemerintah dan juga internal stakeholder, yaitu karyawan.

Terkait dengan berita adanya penawaran pensiun dini bagi karyawan, menurut saya, hal tersebut sangat perlu untuk dikaji ulang. Selain cashflow perusahaan sedang tidak baik, kita sebagai pengusaha harus menganggap SDM sebagai capital atau asset dan tidaklah mudah untuk mencari dan mencetak resources yang ada di Garuda Indonesia saat ini.

Guarantee Hour Allowance atau biasa yang disebut dengan GHA itu merupakan kewajiban perusahaan untuk menggaransi jam terbang awak pesawat dan awak kabin setiap bulannya, tetapi pada saat perusahaan berhalangan untuk menunaikan kewajiban tersebut karena hal-hal eksternal seperti contohnya negara-negara destinasi yang lockdown selama pandemi atau kebijakan pemerintah terkait dengan persyaratan dan protokol kesehatan. Tentunya, hal ini harus dapat dibicarakan secara serius untuk mencari win-win solution.

Justru pada saat ada kebijakan internal perusahaan terkait dengan pemotongan hak karyawan berupa upah atau gaji, itu yang menurut saya tidak boleh dilakukan.

Biaya yang diperlukan untuk karyawan setiap bulannya diperkirakan sekitar 5%-9% dari total biaya yang harus dikeluarkan. Yang menjadi prioritas manajemen saat ini adalah melakukan restrukturisasi pinjaman dan melakukan negosiasi kepada para lessor terkait dengan jatuh tempo utang dan poin tersebut berada di kisaran 27%-30% dari total beban perusahaan tiap bulannya.

Hal inilah yang dilakukan Garuda Indonesia di masa kepemimpinan almarhum Robby Djohan pada masanya dan begitu juga saat pandemi yang menyebabkan industri penerbangan secara global terpuruk, tentunya proses negosiasi menjadi prioritas utama.

Diperlukan seorang pemimpin yang dapat membangkitkan semangat untuk survive dari masa pandemi ini dengan menimbulkan rasa bangga akan Garuda Indonesia sebagai historical airline dan semangat untuk bersama-sama memberikan yang terbaik.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini