Ya Tuhan, Serangan Israel Tinggalkan Trauma Mendalam bagi Anak Gaza

Ya Tuhan, Serangan Israel Tinggalkan Trauma Mendalam bagi Anak Gaza Kredit Foto: Antara/Suwandy

Serangan-serangan zionis Israel selama hampir dua pekan di akhir Mei, meninggalkan trauma yang mendalam bagi anak-anak Gaza.

Serangan selama 11 hari itu telah membuat 66 anak meninggal dunia dan 450 anak luka-luka. Sebanyak 11 anak yang meninggal dalam serangan bom juga sempat menjalani kesehatan mental akibat trauma dari perang sebelumnya.

Baca Juga: Muhammadiyah Dukung Langkah UAH Terkait Fitnah Donasi Palestina

Save the Children mengatakan anak-anak di Gaza menderita ketakutan dan kecemasan, kurang tidur, dan menunjukkan tanda-tanda kesusahan yang mengkhawatirkan, termasuk gemetar terus-menerus, dan mengompol.

Serangan bom beberapa waktu lalu, menurut warga Palestina, adalah yang terburuk yang pernah mereka lihat. Serangan itu juga lebih berdampak buruk pada anak-anak dan keluarga mereka untuk generasi mendatang.

Setidaknya 90 persen penduduk Palestina membutuhkan dukungan dan perawatan kesehatan mental sebagai akibat dari serangan militer Israel yang berulang dan kondisi kemanusiaan yang mengerikan di Gaza. Seorang psikiater Palestina dari wilayah yang terkepung Khaled Yousef Melad mengatakan Gaza mengalami apa yang disebut perang psikologis.

“Perang psikologis memiliki lebih banyak efek jangka panjang daripada kehancuran yang meluas. Faktanya, disabilitas psikologis lebih berbahaya daripada disabilitas fisik,” kata Melad dilansir di Al Araby, Jumat (4/6).

Studi terbaru menunjukkan dalam populasi sekitar satu juta anak, di mana lebih dari 40 persen berusia di bawah 14 tahun, sekitar 60 persen menderita gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Lebih dari 55 persen anak-anak menderita kecemasan.

“Dalam 20 tahun terakhir, anak-anak di Gaza telah menjadi sasaran perang berulang, kekerasan dan agresi oleh tentara Israel. Paparan perang ini telah mengakibatkan gangguan bencana pada anak-anak termasuk depresi, kecemasan, gangguan stres akut dan PTSD,” kata Melad.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini