Heboh Mark Zuckerberg Ajarkan Anak Coding di Usia 3 Tahun, Netizen: Masa Kecil Bukan untuk Coding!

Heboh Mark Zuckerberg Ajarkan Anak Coding di Usia 3 Tahun, Netizen: Masa Kecil Bukan untuk Coding! Kredit Foto: Reuters/Adnan Abidi

Belum lama ini, CEO Facebook Mark Zuckerberg membagikan postingan di mana anaknya yang baru berusia tiga tahun belajar coding. Setelah pandemi, anak-anak memang belajar menggunakan devicesĀ serba digital. Dan Zuckerberg mengaku bahwa mengajari anak-anak adalah hal sulit yang pernah ia rasakan.

"Saya hanya ingin mengatakan bahwa mengajar anak mengetik adalah salah satu ujian kesabaran terbesar sepnjang pengalaman yang pernah saya alami. August (anaknya) mengetik secara 1-2 kata per menit."

"Dan ketika dia memasukkan beberapa huruf ke dalam sebuah kata dan kemudian salah, dan ketika menghapus malah menghapus tiga kali daripada sekali, lalu ia harus mengetik ulang seluruh kata, saya merasa seperti saya hanya akan kehilangannya." ujar Zuckerberg sebagaimana dikutip dari laman Facebook-nya. Lebih lanjut, Zuck juga mengonfirmasi adanya stiker karakter Elsa dari Frozen di laptopnya.

Baca Juga: Bocor!! Mark Zuckerberg Beberkan Fitur Baru WhatsApp, Bakal Segera Launching!

Sejak dibagikan, postingan tersebut menjadi viral dan mendapat banyak like dan komentar. Meski banyak yang memuji tindakan parenting Zuckerber, namun ada satu komentar yang juga menarik perhatian. Ia menganggap Zuck telah merenggut kreativitas anaknya.

"Mark Zuckerberg, Ini harus dihentikan, ini adalah awal dari tradisi buruk yang akan merusak kreativitas anak-anak lainnya. Saat-saat ini dibuat untuk melihat bulan, merasakan deburan ombak laut, dan menyentuh kemegahan langit melalui warna dan pensil di atas kertas. Masa kecil bukan untuk coding." tulis sebuah akun bernama Atul Kumar Rai.

"Saya ingin mengatakan lagi, tolong jangan hancurkan kepolosan masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak adalah usia tertentu di mana kita belajar sopan santun, kepekaan, dan humanisme. Hal-hal ini lebih penting daripada coding." tambahnya.

Namun, komentar tersebut juga diiringi dengan berbagai komentar kritik lainnya. Ada yang mengatakan bahwa setiap anak itu berbeda.

"Dia mungkin mendapatkan bulannya sendiri yang bisa dia jangkau dan sentuh dengan kapal pesiarnya sendiri yang mensimulasikan cuaca apa pun yang dia inginkan." balas sebuah akun bernama Brian Wsm Hull.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini