Ditangkap Militer Israel sampai Tangan Patah, Seorang Jurnalis Masuk Rumah Sakit

Ditangkap Militer Israel sampai Tangan Patah, Seorang Jurnalis Masuk Rumah Sakit Kredit Foto: Antara/REUTERS/Mohamad Torokman

Wartawan bernama Givara Budeiri meninggalkan rumah sakit Minggu (6/6/2021). Dia menerima perawatan untuk luka yang diderita selama penangkapan oleh pasukan Israel sehari sebelumnya.

Tangan kiri Budeiri patah ketika ditangkap saat meliput demonstrasi di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur yang diduduki. Polisi Israel juga menghancurkan peralatan milik juru kamera Aljazirah Nabil Mazzawi. Penangkapannya menuai kecaman tajam dari para pendukung kebebasan pers dan pengawas media.

Baca Juga: Negara Arab Ini Terang-terangan Ogah Rujuk dengan Zionis Israel, Palestina Jadi Alasan...

Koresponden Yerusalem jaringan media yang berbasis di Doha ini dituduh menyerang seorang perwira polisi perempuan dan tidak menunjukkan kredensialnya. Tuduhan tersebut disangkal oleh Budeiri dan Aljazira. Tuduhan Israel juga ditentang oleh rekaman penangkapan Budeiri.

"Saya berusaha untuk baik-baik saja, tetapi mereka mematahkan tangan saya dan saya menghabiskan sepanjang malam di rumah sakit,” kata Budeiri.

Budeiri mengatakan mengalami memar di beberapa bagian tubuhnya, sakit kepala, nyeri di punggung, dan sakit kakinya. Sakit di bagian kaki membuatnya sulit untuk berjalan.

Wartawan tersebut telah bekerja sebagai peliput untuk Aljazirah sejak 2000. Dia mengenakan jaket antipeluru bertanda "pers" ketika ditangkap dan memegang kartu Kantor Pers Pemerintah Israel (GPO).

Menurut Budeiri, dia diperlakukan sebagai penjahat ketika dibawa ke kantor polisi dan selama beberapa jam dalam tahanan dilarang melepas jaket antipelurunya yang berat atau menutup matanya ketika merasa lelah.

"Kami akan membuat Anda tutup mulut ... jika kami membuat Aljazirah diam, semua orang akan tutup mulut," ujarnya mengutip seorang perwira polisi Israel mengatakan saat dia ditahan.

Seperti banyak orang lain, Budeiri mengatakan dia hanya meliput kenyataan di lapangan dan bahwa jurnalis memberi tahu seluruh dunia kondisi yang terjadi di wilayah itu.

"Mikrofon dan kamera akan menyala... tidak ada yang akan menghentikan kita," kata Budeiri. 

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini