Xi Jinping Sadis Abis! Kekayaan Miliarder China Ini Anjlok Ratusan Triliun Gegara...

Xi Jinping Sadis Abis! Kekayaan Miliarder China Ini Anjlok Ratusan Triliun Gegara... Kredit Foto: Twitter/NYSE

Tindakan keras China terhadap industri les privat telah memukul tiga pengusaha paling terkemuka di Negeri Tirai Bambu tersebut. Kekayaan mereka terhapus USD27 miliar (Rp385 triliun) hanya dalam beberapa bulan.

Penurunan terbesar terjadi pada Larry Xiangdong Chen, pendiri perusahaan pendidikan yang terdaftar di New York, Gaotu (sebelumnya dikenal sebagai GSX Techedu) kehilangan 90% nilainya sejak mencapai puncaknya pada akhir Januari. Berdasarkan saham Gaotu-nya, pria 49 tahun ini memiliki kekayaan bersih USD1,6 miliar (Rp22,8 triliun). Meskipun itu jumlah yang cukup besar, namun penurunan kekayaan itu tergolong tajam mengingat Chen memiliki USD16,5 miliar (Rp235 triliun) awal tahun ini.

Baca Juga: Kisah Orang Terkaya: Larry Xiangdong Chen, Mantan Guru yang Jadi Miliarder Startup Pendidikan

Selain Chen, dilansir dari Forbes di Jakarta, Selasa (8/6/21) penurunan kekayaan juga diikuti oleh Zhang Bangxin, pendiri TAL Education yang berusia 41 tahun. Ia melihat kekayaannya turun USD10 miliar (Rp142 triliun) menjadi USD5,5 miliar (Rp78 triliun) karena saham perusahaannya yang juga terdaftar di New York, turun lebih dari 60% selama periode yang sama.

Lalu, miliarder pendidikan ketiga, Michael Minhong Yu dari New Oriental Education & Technology, juga kehilangan USD2,1 miliar (Rp30 triliun) karena nilai perusahaannya yang terdaftar di New York berkurang separuh.

Pembalikan nasib ini dipicu oleh regulator China meluncurkan kampanye untuk mengendalikan les privat. Ini dilakukan untuk mengerem industri pendidikan yang memiliki puluhan juta siswa online untuk belajar karena banyak sekolah terpaksa ditangguhkan selama pandemi. Tetapi ketika layanan bimbingan belajar mengejar pertumbuhan lebih lanjut, malpraktik seperti penipuan harga serta iklan yang salah dan menyesatkan mulai muncul.

Pada 1 Juni, regulator Pasar mengenakan denda USD5,73 juta terhadap 15 perusahaan les privat termasuk Zuoyebang yang didukung Alibaba, Yuanfudao yang didukung Tencent, dan Pendidikan & Teknologi Oriental Baru Yu karena alasan ini. Chen's Gaotu dan Zhang's TAL Education masing-masing diberi denda maksimum USD76.988 pada bulan April karena mengklaim secara salah harga kursus online mereka.

Selain keras terhadap praktik pemasaran perusahaan-perusahaan, pemerintah China juga melarang mereka menawarkan kursus streaming langsung di malam hari untuk melindungi jam idur anak-anak. Mereka juga tidak diizinkan untuk mengajar kursus sekolah dasar kepada anak di bawah umur pra-sekolah. Regulator mengikuti panggilan Presiden China Xi Jinping pada bulan Mei untuk meringankan beban siswa serta untuk lebih mengatur layanan bimbingan belajar setelah sekolah.

“Langkah-langkah ini dengan jelas menunjukkan tekad regulator untuk memperbaiki industri dengan tinju berat,” kata Guo.

Gaotu tidak akan lagi merekrut siswa untuk layanan Xiao Zao Qi Meng, yang menyediakan kursus pembelajaran untuk anak-anak berusia antara tiga hingga delapan tahun. Perusahaan juga telah merumahkan karyawan, media lokal 36kr melaporkan sepertiga dari total jumlah karyawannya dapat terpengaruh.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini