Jangan Sampai Lu Lagi, Lu Lagi, Mega-Pro Bisa Ditinggal Generasi Milenial

Jangan Sampai Lu Lagi, Lu Lagi, Mega-Pro Bisa Ditinggal Generasi Milenial Kredit Foto: Istimewa

Wacana menduetkan kembali Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2024 dianggap realistis, dan bisa menang.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menganalisa, secara politik Megawati dan Prabowo memiliki modal politik yang sangat besar. Keduanya adalah Ketua Umum partai papan atas. PDI Perjuangan di posisi pertama dengan raihan 128 kursi di DPR, dengan persentase 22,26 persen.

“Bukan pepesan kosong, ini realistis. Indikasinya, preshold 20 persen, figur populer nggak punya partai, dan partai-partai 10 tahun terakhir kebanyakan jadi followers,” ujar Adi kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Baca Juga: Hadiri Bersama Satu Abad Soeharto, Cie...Prabowo-Anies Dijodoh-jodohin

Dikatakan, PDIP menjadi satu-satunya partai yang melampaui presidential threshold alias preshold sebesar 20 persen. Jika ditambah dengan Partai Gerindra yang finish di posisi kedua dengan raihan 78 kursi di Senayan, tentu membuat duet ini cukup membuat efek kejut di Pemilu 2024.

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta itu menilai, partai politik saat ini umumnya tidak tampil sebagai leader politik, justru senang menjadi follower. Indikasi ini, terlihat dari koalisi gemuk yang ada di dalam pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

“Jika PDIP-Gerindra bersatu, kemungkinan besar PAN dan PKB akan merapat. Kalau Megawati berkehendak, bisa jadi nih barang,” ujarnya.

Adi menganalogikan Pemilu 2024 ini semacam perang terbuka yang semua peserta bisa tampil sebagai pemenang, karena tidak ada petahana. Namun, perang ini masih gelap gulita karena sejumlah nama populer seolah terkunci preshold. “Seandainya parpol tidak memberikan tiket, para tokoh ini pun hanya akan menjadi penonton di pesta demokrasi,” ujarnya.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini