Ekonomi Membaik, GRP Bangkit dari Rugi Jadi Cuan!

Ekonomi Membaik, GRP Bangkit dari Rugi Jadi Cuan! Kredit Foto: Dok. GGRP

Perekonomian nasional secara perlahan mulai menampakkan tanda-tanda perbaikan. Hal ini setidaknya dirasakan betul oleh pelaku industri baja nasional. Salah satunya adalah PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP). Bagaimana tidak, di sepanjang triwulan I/2021 lalu perusahaan dengan kode saham GGRP itu mampu meraup laba bersih sebesar US$7,4 juta. Padahal di sepanjang tahun 2020 lalu GRP diketahui masih berkutat pada neraca minus. “Tentu (capaian) ini sangat menggembirakan, dan membuat kami lebih optimistis lagi dalam mencapai target 2021,” ujar Chief Financial Officer GRP, Budi Raharjo Legowo,  kepada mediaRabu (9/6).

Pada tahun 2020 lalu, Budi mengakui bahwa pihaknya memang masih mengalami rugi bersih sebesar US$8,9 juta. Karenanya, pada tahun 2021 ini GRP bertekad untuk kembali ke ‘zona hijau’ dengan mampu membukukan laba bersih lebih dari US$20 juta. Dengan capaian sebesar US$7,4 juta pada triwulan I/2021, maka dapat diartikan bahwa GRP telah berada pada track yang benar dalam mewujudkan target tahunannya. “Meski proyeksi penjualan pada tahun fiskal 2021 ini masih akan mirip dengan penjualan pada tahun fiskal 2020, tapi kami menargetkan adanya peningkatan laba bersih. Dan kami bersyukur, tanda-tanda pemenuhan target sudah terlihat pada triwulan pertama ini,” tutur Budi.

Tren perbaikan kinerja ini, menurut Budi, didukung oleh kondisi pasar domestik yang mulai bangkit dan kembali menjanjikan. Geliat pasar domestik sendiri diyakini Budi tak lepas dari perekonomian nasional yang semakin membaik, sehingga kinerja sektor infrastruktur dan manufaktur juga turut bangkit dan pada akhirnya berimbas pada meningkatnya permintaan terhadap produk baja. “Selain itu, di samping berharap pada geliat pasar domestik, kami juga terus berusaha mengembangkan penjualan ke mancanegara. Selama ini produk GRP sudah merambah pasar ekspor, antara lain ke Kanada, Malaysia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Target untuk ekspor masih seperti tahun lalu, yaitu minimal bisa menyumbang sekitar lima persen terhadap total penjualan bersih perusahaan,” tegas Budi.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini