Dampak Pembatalan Keberangkatan Haji Tidak Signifikan bagi Service Provider

Dampak Pembatalan Keberangkatan Haji Tidak Signifikan bagi Service Provider Kredit Foto: Antara/Saudi Press Agency/Handout via REUTERS

Keputusan pembatalan pemberangkatan jamaah haji asal Indonesia tahun ini yang diambil oleh Kementerian Agama (Kemenag) diyakini tidak akan membawa dampak signifikan bagi para pelaku bisnis layanan pendukung (service provider) ibadah haji dan umrah. Justru, kabar lain bahwa Arab Saudi bakal mengeluarkan kuota sebanyak 60 ribu jamaah haji pada tahun ini dianggap sebagai peluang bagus yang bisa lebih dimaksimalkan. Pendapat ini setidaknya dirasakan oleh salah satu pelaku bisnis service provider Tanah Air, yaitu PT Arsy Buana Travelindo (ABT). “Karena pada tahun 2020 lalu jumlah kuota haji yang dikeluarkan Arab Saudi hanya sebanyak 10 ribu orang untuk seluruh dunia. Jadi kalau di tahun ini ditambah sampai jadi 60 ribu, tentu itu kabar bagus,” ujar President Director ABT, Saipul Bahri, dalam keterangan resminya, di Jakarta, Rabu (9/6).

Selama ini, menurut Saipul, pihaknya merupakan salah satu pemain bisnis layanan pendukung  Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Bisnis yang digeluti meliputi pelayanan penginapan (hotel), tiket pesawat, dan land arrangement (LA) segala keperluan haji dan umrah di Tanah Suci, Mekah, Arab Saudi. Saat ini ABT diketahui juga telah memegang pengelolaan atas beberapa kamar hotel di Mekah dan Madinah. Total kamar yang berada dalam pengelolaan ABT secara rata-rata sekitar 889 kamar per bulan. “(Kamar) Hotel yang kami kelola dalam keadaan siap untuk melayani jemaah haji dan umrah dari berbagai negara, bukan hanya Indonesia. Artinya, dengan bertambahnya kuota haji tahun ini juga berpotensi mendongkrak kinerja bisnis kami,” tutur Saipul.

Saipul menyatakan, Arab Saudi telah membuat sistem teknologi informasi dan reservasi akomodasi hotel secara mandiri yang terkoneksi dengan kementrian haji untuk menunjang ibadah baik umrah atau haji. Hotel-hotel yang dikelola oleh ABT sudah terkoneksi dengan sistem tersebut, seperti Fajr Bade Group. Dengan demikian, hotel ABT pada dasarnya sangat bisa menampung jemaah haji untuk tahun ini. Apalagi,  hotel-hotel yang dikelola ABT, seperti Fajr Badee sudah menerapkan protokol kesehatan yang menjadi standar dari kementrian kesehatan  Arab Saudi. “Patut digarisbawahi bahwa hingga kini Mekah tidak ditutup. Pada Ramadan tahun ini, ibadah umrah masih tetap diizinkan. Jadi, bisnis service provider seperti ABT sebenarnya juga tetap bisa berjalan dengan baik,” papar Saipul.

Saipul menambahkan, ibadah umrah selepas musim haji juga tetap dibuka oleh Arab Saudi. Bahkan, ada potensi jemaah umrah asal Indonesia bisa berangkat ke Tanah Suci. Hal ini akan diputuskan oleh Pemerintah Arab Saudi. Jika ini terjadi, pasar bisnis sebagai provider untuk penyelenggara perjalanan umrah atau haji makin terbuka. Dalam jangka panjang, Saipul menuturkan, bisnis layanan pendukung haji dan umrah sangat potensial, seiring dengan posisi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dan juga pelaksanaan vaksinasi COVID19 yang sudah masif.  “Prospek sektor ini semakin cerah, seiring rencana Arab Saudi menaikkan kuota jemaah umrah dari delapan juta menjadi 30 juta per tahun pada 2030 mendatang,” tegas Saipul.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini