Kisah Perusahaan Raksasa: Nippon Steel, Bergerak dari Tradisional Menuju Konglomerat Baja Dunia

Kisah Perusahaan Raksasa: Nippon Steel, Bergerak dari Tradisional Menuju Konglomerat Baja Dunia Kredit Foto: Reuters

Nippon Steel Corporation adalah salah satu produsen baja terbesar di Jepang. Perusahaan ini lahir dari hasil berbagai merger dari sejumlah perusahaan. Kini namanya tercatat dalam daftar perusahaan raksasa dunia versi Global 500 Fortune.

Menurut Fortune, Nippon Steel sukses mengantongi 54,46 miliar dolar AS dalam pendapatannya tahun 2020. Catatan ini tidak sedikit baik karena sebenarnya mengalami penurunan dari 2019 sebesar 2,3 persen.

Baca Juga: Kisah Perusahaan Raksasa: Tencent, Konglomerat Sosial Media Paling Berharga di Dunia

Namun yang terparah bukan cuma itu. Pasalnya perusahaan rugi besar-besaran dengan angka minus 3,96 miliar dolar AS dalam labanya. Itu berarti terjadi penurunan 275 persen dari keuntungan yang diperoleh tahun sebelumnya.

Aset yang dikuasai perusahaan di tahun itu juga hanya sebesar 68,89 miliar dolar AS. Dengan demikian peringkatnya dalam daftar tersebut berada di posisi 198 dunia.

Warta Ekonomi pada Rabu (9/6/2021) akan mengulas kisahnya dalam perusahaan raksasa Nippon Steel. Selengkapnya simak artikel berikut di bawah ini.

Produksi baja di Jepang muncul setelah didorong oleh kebutuhan untuk mempertahankan diri terhadap Barat. Namun di masa sebelumnya, bangsa Jepang selama berabad-abad sebelum 1850-an telah memproduksi sedikit baja dengan metode peleburan kuno. Karena alasan mengejar ketertinggalan dari kekuatan Barat, Jepang membangun Tungku Kamaishi, dan dinasionalisasi tahun 1873.

Industri tersebut tidak mudah bagi Jepang. Pada tahun-tahun awalnya, kekurangan baik dari segi material dan sumber daya manusia (SDM) menghantui negara itu. 

Kebutuhan akan SDM diprakarsai oleh Curt Netto, profesor teknik di Universitas Tokyo dan Adolf Ledebur seorang profesor lain. Keduanya adalah orang Jerman, namun mereka berperan penting dalam mengoordinasikan pekerjaan baja di Jepang.

Jepang kemudian perlahan mengembangkan lingkaran ahli metalurgi dan insinyurnya sendiri, sehingga melahirkan nama-nama seperti Kageyoshi Noro dan Michitaro Oshima. Pada tahun 1896, konstruksinya dipercayakan kepada sebuah perusahaan Jerman dan Michitaro Oshima ditunjuk sebagai direktur pelaksana Pekerjaan Baja Pemerintah Kekaisaran Jepang yang baru dibuat di Yawata. Karya Yawata menjadi inti dari Nippon Steel saat ini.

Industri tersebut berjalan cukup lambat. Pabrik di Yawata per 1901 memproduksi 60.000 ton baja. Sebagai perbandingan, kapasitas pabrik baja di Amerika Serikat (AS) pada tahun yang sama adalah 10 juta ton.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini