Bekas Bos Militer Israel Bilang Kesepakatan Nuklir Iran Bantu Tentara Fokus di Tempat Lain

Bekas Bos Militer Israel Bilang Kesepakatan Nuklir Iran Bantu Tentara Fokus di Tempat Lain Kredit Foto: Instagram/Benjamin Netanyahu

Mantan kepala staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Gadi Eisenkot pada Rabu (9/6/2021) mengakui bahwa kesepakatan nuklir baru antara Iran dan Amerika Serikat dan kekuatan dunia lainnya, mencegah Teheran mendapatkan senjata atom untuk beberapa waktu, kemungkinan akan membebaskan sumber daya Israel untuk keperluan mendesak lainnya masalah keamanan.

Israel “selalu perlu khawatir” tentang prospek nuklir Iran dan terus menginvestasikan “energi yang signifikan” untuk mencegahnya mendapatkan bom atom, tambah Eisenkot. Tetapi Iran dengan senjata nuklir, meski merupakan ancaman serius, tidak akan mewakili ancaman eksistensial bagi Negara Israel, katanya.

Baca Juga: Warga Israel yang Serang Orang Arab Akhirnya Ditangkap, Motivasi Utamanya...

“Saya tidak melihat adanya ancaman eksistensial terhadap Negara Israel. Kita harus terus memastikan bahwa Iran tidak memiliki kemampuan atom,” katanya, dilansir Times of Israel, Kamis (10/6/2021).

Eisenkot membuat pernyataannya di sebuah konferensi untuk menghormati mantan kepala Mossad Meir Dagan di Netanya Academic College.

Selama masa jabatannya sebagai komandan Pasukan Pertahanan Israel dari 2015 hingga 2019, Eisenkot adalah suara langka di lembaga keamanan Israel yang mengakui manfaat dari kesepakatan nuklir Iran 2015, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan, atau JCPOA.

Ini berlanjut pada Rabu, dengan panglima militer putus dengan sebagian besar pejabat pertahanan senior lainnya, termasuk penggantinya Kepala Staf IDF Aviv Kohavi, yang secara terbuka mencela prospek perjanjian nuklir baru karena AS tampaknya siap untuk memasuki kembali pakta bahwa Donald Trump menarik diri dari tahun 2018.

“Itu memungkinkan kami untuk mengalihkan sejumlah besar sumber daya ke hal-hal lain: ancaman berbasis darat, untuk mengembangkan sekutu yang sangat signifikan, hingga empat tahun memerangi ISIS, untuk membuka kampanye melawan kubu Iran. Itu memungkinkan kami untuk mengalihkan sumber daya utama untuk menyelesaikan sejumlah masalah keamanan tingkat pertama,” katanya, menggunakan istilah militer untuk ancaman langsung di perbatasan Israel.

Dalam pidatonya, mantan panglima militer itu juga membahas ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok teror Hizbullah, yang dengannya Israel berperang dalam Perang Lebanon Kedua yang peringatan 15 tahun akan ditandai bulan depan.

“Kami tidak cukup siap menghadapi Perang Lebanon Kedua. Tapi kami sudah belajar sejak itu," katanya.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini