Sinyal Bekas Pentolan Mossad Cukup Menggetarkan, Israel Habisi Ilmuwan Nuklir Iran

Sinyal Bekas Pentolan Mossad Cukup Menggetarkan, Israel Habisi Ilmuwan Nuklir Iran Kredit Foto: Reuters/Ronen Zvulun

Eks kepala dinas intelijen Mossad Israel Yossi Cohen memberi sinyal bahwa Israel berada di balik serangan baru-baru ini yang menargetkan program nuklir Iran dan seorang ilmuwan militer. Dia juga memberikan peringatan kepada ilmuwan lain dalam program nuklir Iran bahwa bisa menjadi target pembunuhan.

Cohen berbicara kepada program investigasi Channel 12 Israel “Uvda” dalam segmen yang ditayangkan Kamis (10/6/2021) malam.

Baca Juga: Bekas Bos Mossad Bongkar Alasan Netanyahu Kalah Besar: Langgar Strategi Negara

"Jika ilmuwan bersedia mengubah karier dan tidak akan menyakiti kita lagi, ya kadang-kadang kami menawarkan mereka jalan keluar," katanya dalam acara tersebut.

Dari beberapa serangan besar yang menargetkan Iran, tidak ada yang menyerang lebih besar dari dua ledakan selama setahun terakhir di fasilitas nuklir Natanz. Fasilitas sentrifugal itu memperkaya uranium dari ruang bawah tanah yang dirancang untuk melindungi mereka dari serangan udara.

Pada Juli 2020, sebuah ledakan misterius menghancurkan perakitan sentrifugal canggih Natanz. Iran menuduh Israel berada di balik serangan itu. Kemudian, pada April tahun ini, ledakan lain merobek salah satu ruang pengayaan bawah tanahnya.

Pewawancara, jurnalis Ilan Dayan, mencoba menggambarkan deskripsi rinci tentang cara Israel menyelundupkan bahan peledak ke ruang bawah tanah Natanz.

"Orang yang bertanggung jawab atas ledakan ini, menjadi jelas, memastikan untuk memasok ke Iran fondasi marmer di mana sentrifugal ditempatkan. Ketika mereka memasang fondasi ini di dalam fasilitas Natanz, mereka tidak tahu bahwa itu sudah mencakup sejumlah besar bahan peledak," kata Dayan.

Dayan juga mengangkat pembunuhan atas Mohsen Fakhrizadeh pada November. Ilmuwan Iran itu  memulai program nuklir militer Teheran beberapa dekade lalu. Badan-badan intelijen AS dan Badan Energi Atom Internasional meyakini Iran mengabaikan upaya terorganisasi untuk mencari senjata nuklir pada 2003.

Dayan di segmen itu menggambarkan Cohen sebagai secara pribadi mengawasi seluruh gerakan. Dayan juga menggambarkan cara senapan mesin yang dioperasikan dari jarak jauh yang dipasang di sebuah truk pikap membunuh Fakhrizadeh dan kemudian menghancurkan dirinya sendiri.

Cohen menggambarkan upaya Israel untuk mencegah ilmuwan Iran mengambil bagian dalam program tersebut.

"Mereka melihat teman-teman mereka," ujar Cohen ketika ditanya apakah para ilmuwan memahami implikasinya jika mereka tidak berhenti.

Media di Israel beroperasi di bawah kebijakan puluhan tahun yang mengharuskan jurnalis untuk menghapus cerita yang melibatkan masalah keamanan melalui sensor militer.

Pernyataan Cohen tampaknya sengaja dilakukan untuk menunjukkan Israel ingin mengeluarkan peringatan baru kepada Iran di tengah negosiasi nuklir Wina.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini