Ransomware Makin Berbahaya, Palo Alto Gabung Satgas Ransomware

Ransomware Makin Berbahaya, Palo Alto Gabung Satgas Ransomware Kredit Foto: Palo Alto Networks

Saat ini, Ransomware dianggap sebagai ancaman keamanan paling penetratif yang mulanya hanya dianggap sebagai gangguan keamanan biasa, kini kehadirannya dianggap membawa risiko terhadap keamanan nasional maupun global, berimbas pada stabilitas ekonomi dan keamanan publik.

Beratnya ancaman ini bahkan sering menjadi sorotan karena dilibatkan dalam berbagai kasus keamanan besar baru-baru ini, seperti diputusnya jalur pipa utama A.S. akibat serangan yang dilancarkan oleh salah satu geng yang sering terlibat dalam kasus-kasus pemerasan siber.

Baca Juga: Biden Akan Bicara Soal Kripto dan Ransomware di KTT G-7

"Data dari  tim Palo Alto Networks Unit 42 threat intelligence menggambarkan melonjaknya biaya tebusan yang timbul dari serangan ransomware. Jumlah uang tebusan rata-rata dalam setiap serangan meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun lalu ke angka $312.493," tulis Palo Alto dalam rilisnya, Jumat (11/6/2021).

Di tahun 2021 ini saja, jumlah uang yang dibayarkan rata-rata meningkat hingga hampir tiga kali lipat, yakni rata-rata sebesar $850.000. Uang tebusan paling tinggi yang diminta, menurut tim Unit 42 incident response Palo Alto Networks di tahun ini mencapai $50 juta, meningkat dari angka di tahun 2020 lalu yang sebesar $30 juta.

Taktik kejahatan juga makin mengkhawatirkan. Komplotan kejahatan di balik serangan ransomware mendompleng berita-berita mengenai pandemi COVID-19 di sepanjang tahun 2020 lalu. Mereka menyasar lembaga-lembaga layanan kesehatan dan sektor-sektor penting lainnya dengan menyerang bidang-bidang krusial yang berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia.

Mereka juga memperbarui infrastruktur serangan dan melakukan perekrutan anggota baru secara besar-besaran. Serangan-serangan tersebut juga dibidikkan ke sekolah-sekolah, lembaga pemerintahan, rumah sakit, pabrik manufaktur, hingga infrastruktur-infrastruktur krusial, seperti sistem jalur perpipaan.

Sebagai bagian dari upaya untuk turut mengatasi serangan ransomware yang kian meningkat dari hari ke hari, Palo Alto Networks bergabung dalam koalisi bersama yang merupakan gabungan lebih dari 60 lembaga terdepan di industri, akademisi, masyarakat sipil, serta pemerintah, bernama Ransomware Task Force (RTF).

Melengkapi upaya yang dilakukan bersama oleh seluruh komponen masyarakat ini, Palo Alto Networks mengambil peran strategis di bagian solusi teknologi, pengembangan produk, serta layanan yang dapat mendukung dalam upaya menggagalkan serangan-serangan ransomware. Teknologi keamanan yang ada maupun yang tengah naik daun punya peran penting dalam membantu mengatasi krisis ransomware yang terjadi saat ini.

John Davis, Vice President of Public Sector untuk Palo Alto Networks duduk sebagai salah satu pimpinan kolegial dalam kelompok kerja koalisi yang merilis laporan “Combating Ransomware,” disertai dengan rekomendasi-rekomendasi lengkap dan praktis dalam upaya mengatasi ancaman ransomware.

Sejumlah perwakilan dari Palo Alto Networks juga duduk di beberapa kelompok kerja di RTF yang fokus dalam mengembangkan kerangka kerja, seperti Adrian McCabe di kelompok kerja Disrupt dan Sam Rubin di kelompok kerja Respond. John Davis dan Sean Morgan mewakili Palo Alto Networks di kelompok kerja Prepare.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini