Nasib Dua Perusahaan Lippo Group: Multipolar vs Matahari Jomplang, Kok Bisa?

Nasib Dua Perusahaan Lippo Group: Multipolar vs Matahari Jomplang, Kok Bisa? Kredit Foto: Wikipedia.org

Dua perusahaan milik Lippo Group menunjukkan pergerakan saham yang sangat berbeda, yakni PT Multipolar Tbk (MLPL) dan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF). Ketika harga saham MLPL mampu meroket 850% lebih (ytd), saham Matahari hanya naik sekitar 56% (ytd).

Direktur Multipolar, Agus Arismunandar, mengungkapkan bahwa kenaikan harga saham MLPL secara drastis ditopang oleh adanya program vaksinasi yang turut menjadi momentum dan pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19. Hal itu pun diklaim juga turut dialami oleh saham Matahari yang masih berada dalam satu grup dengan MLPL. Baca Juga: Harga Saham Multipolar Milik Lippo Group Melonjak Drastis 215% dalam Sekejap, Ternyata Gara-Gara....

"Terkait LPPF, kami percaya bahwa program vaksinasi juga memiliki dampak positif secara umum, namun terhadap pergerakan saham LPPF kami tidak dapat menyampaikan pendapat kami," pungkasnya pada Senin, 14 Juni 2021. Baca Juga: Ada Kabar Tak Sedap, Rupiah Hari Ini Tumbang di Asia dan Dunia!

Pada kesempatan yang sama, Agus juga menyampaikan tanggapan mengenai rencana divestasi portofolio bisnis perusahaan. Sampai saat ini, perusahaan yang milik konglomerat Riady itu memang belum memiliki rencana divestasi yang spesifik. Namun, berbagai peluang divestasi tengah terus dijajaki untuk memonetisasi investasi yang dilakukan sebelumnya dengan tujuan meningkatkan shareholder value.

"Pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan termasuk di antaranya prospek dari industri dan kinerja portofolio aset yang dimiliki, valuasi divestasi, profil dari calon pembeli dan nilai tambah yang dapat diberikan kepada portolio bisnis, struktur transaksi divestasi, serta peraturan dan perundang-undangan yang berlaku terhadap transaksi divestasi tersebut," sambungnya lagi.

Jika rencana divestasi terealisasi, dana yang dihasilkan tersebut akan digunakan kembali oleh Multipolar untuk berinventasi, baik di portofolio yang sudah ada maupun yang baru. Selain itu, dana hasil divestasi juga akan dialokasikan untuk tambahan modal kerja dan biaya operasional lainnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini