Menikah di Masa Pandemi? Begini Kira-Kira Alokasi Dananya

Menikah di Masa Pandemi? Begini Kira-Kira Alokasi Dananya Kredit Foto: Ning Rahayu

Pandemi banyak mengubah gaya hidup masyarakat, termasuk pernikahan. Kini, pernikahan banyak yang menggunakan konsep intimate wedding yang hanya mengundang orang terdekat dengan jumlah yang cenderung tidak banyak. Tentunya, ini memengaruhi alokasi dana yang dikeluarkan untuk biaya acara pernikahan.

Senior Head of Wedding Business Bridestory, Gisela Setyawan, mengatakan bahwa tidak ada perubahan yang terlalu signifikan antara biaya pernikahan dengan konsep biasa dengan intimate wedding. Hal itu disebabkan anggaran untuk pernikahan umumnya tergantung dana yang disiapkan para pengantin.

Baca Juga: Gandeng Dosen Buka-Bukaan Soal Investasi, Raditya Dika Beberkan Pentingnya Dana Pensiun!

"Soal hemat dan tidak itu sangat relatif karena tergantung masing-masing pengantin. Sejauh ini biasanya kalau pengantin sudah menentukan budget sejumlah X, yang akan dikeluarkan segitu mau gimana pun konsepnya," ujar Gisela pada virtual briefing bertema Tren dan Inspirasi dari Tokopedia dan Bridestory: Intimate Wedding 101, Senin (14/6/2021).

Namun, menurut survei yang dilakukan Bridestory, konsep intimate wedding lebih hemat 20 persen daripada konsep pernikahan normal. Lebih lanjut, Gisela membagikan informasi seputar gambaran umum alokasi dana pernikahan di masa pandemi.

Alokasi dana terbesar biasanya digunakan untuk venue dan katering sebesar 30 persen. Dari alokasi tersebut, biasanya sudah mencakup pengiriman hampers untuk tamu undangan yang tidak bisa hadir secara fisik.

"Karena biasanya, intimate wedding ini keluarga tetap kirim hampers. Jadi, sama saja kayak jasa katering," lanjutnya.

Selanjutnya, anggaran sekitar 20 persen disiapkan untuk fotografi dan videografi, 15 persen untuk dekorasi pernikahan, 15 persen tes kesehatan, 10 persen busana pengantin, 5 persen wedding planner atau organizer, dan 5 persen untuk biaya lain-lain.

"Karena pandemi jadi ada pengeluaran untuk swab antigen atau PCR juga," tuturnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini