Ini Sumpah Menggelegar Hamas yang Teguh Gunakan Senjata untuk Lawan Israel

Ini Sumpah Menggelegar Hamas yang Teguh Gunakan Senjata untuk Lawan Israel Kredit Foto: Getty Image/AFP

Juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum, mengatakan pemerintahan baru Israel tidak akan membawa perubahan. Menurutnya, proses pemilihan Israel yang diulang berkali-kali menunjukkan bukti kedalaman krisis politik yang dialami entitas Zionis.

"Pemerintahan baru tidak akan mengubah sifat hubungan kita dengannya sebagai entitas permukiman pendudukan yang harus dilawan dan hak-hak kita diambil darinya dengan segala cara dan bentuk perlawanan, termasuk perlawanan bersenjata," ujar Barhoum dilansir Jerusalem Post, Senin (14/6/2021).

Baca Juga: Sikap Amerika Bela Israel Nyata Banget, Awas Hamas Teriak: Apakah Membunuh Wanita dan Anak Itu...

Naftali Bennet resmi menggantikan Benjamin Netanyahu yang harus mundur dari jabatan sebagai perdana menteri Israel selama 12 tahun.

Bennett yang merupakan pemimpin Partai Yamina akan menjadi pemimpin pemerintahan baru Israel hingga September 2023. Setelah itu, Bennet akan menyerahkan kekuasaan kepada pemimpin Yesh Atid, Yair Lapid, untuk dua tahun sisa masa jabatan perdana menteri.

Netanyahu yang merupakan perdana menteri terlama dalam sejarah Israel akan tetap menjadi pemimpin Partai Likud dan oposisi. Otoritas Palestina (PA) mengatakan, pemerintahan baru Israel tidak akan membawa banyak perubahan. Kementerian Luar Negeri PA mengatakan bahwa Palestina tidak mengharapkan perubahan dalam kebijakan Israel.

"Kami memperkirakan kebijakan Netanyahu tidak akan berubah dan bahkan bisa lebih buruk," kata Kementerian Luar Negeri PA.

Menurut PA, Palestina akan menilai pemerintahan baru bukan atas dasar prinsip bersama atau menentang Netanyahu. Namun, pada posisi mereka terhadap Palestina, terutama pembentukan negara Palestina, permukiman, dan pencaplokan sebagian Tepi Barat, serta solusi dua negara.

Palestina juga akan menilai pemerintah baru berdasarkan sikapnya terhadap isu-isu mendesak, seperti pawai bendera yang direncanakan oleh kelompok sayap kanan Yahudi di Yerusalem, pekan ini.

Selain itu, isu mendesak lainnya adalah evakuasi pos pemukim di dekat Nablus, kunjungan orang Yahudi ke Masjid al Aqsa, kompleks di Temple Mount, dan ancaman untuk mengusir keluarga Arab dari rumah mereka di lingkungan Sheikh Jarrah dan Silwan.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini