Lewati Pekan II Juni 2021, Harga CPO Bikin Deg-degan

Lewati Pekan II Juni 2021, Harga CPO Bikin Deg-degan Kredit Foto: Antara/Syifa Yulinnas

Melewati pekan II Juni 2021, harga rata-rata minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada CIF Rotterdam basis tercatat menguat hingga 90,7 persen dari yang sebelumnya US$581,5 per MT atau setara dengan Rp8.315.450 (kurs Rp14.300) menjadi US$1.109 per MT atau setara dengan Rp15.858.700 per MT (kurs Rp14.300) secara y-o-y.

Jika dibandingkan pekan lalu, average price yang tercatat tersebut melemah 5,5 persen dari yang sebelumnya sebesar US$1.174 per MT atau setara dengan Rp16.788.200 per MT (kurs Rp14.300). Kendati demikian, harga harian CPO dalam periode tersebut yang sebesar US$962,5 per MT merupakan harga terendah sepanjang lima bulan terakhir. 

Baca Juga: Harga CPO di Awal Juni 2021 Mulai Melandai

Sejumlah ahli memperkirakan, sentimen utama yang menyebabkan pelemahan harga CPO yakni anjloknya permintaan CPO dari India akibat pandemi Covid-19 yang menghentikan konsumsi CPO dari segmen hotel, restoran, dan kafe.

Mengingat, India merupakan salah satu importir utama CPO sehingga penurunan impor dari negara ini akan banyak berpengaruh terhadap pelemahan harga CPO. Tidak hanya itu, instruksi dari badan perlindungan lingkungan Amerika Serikat terkait pengurangan penggunaan minyak kedelai pada biodiesel turut menjadi sentimen pelemahan harga CPO.

Hal ini dikarenakan, pergerakan harga CPO sebagai minyak nabati seiring dengan pergerakan harga minyak kedelai. Sentimen lain terkait lockdown yang dilakukan Malaysia turut mempengaruhi pergerakan harga CPO global.   

Meskipun demikian, ada harapan bahwa harga CPO kembali menguat seiring dengan permintaan yang berangsur membaik. Hal ini juga didukung oleh laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang menyatakan, harga minyak nabati global masih terus naik di bulan Mei.

Indeks harga minyak nabati rata-rata berada di 174,7 poin di bulan Mei, naik 12,7 poin atau 7,8 persen secara bulanan dan menandai kenaikan bulanan kedua belas berturut-turut. Hal tersebut juga dipicu pertumbuhan produksi yang lambat di negara-negara Asia Tenggara, seiring dengan meningkatnya permintaan global sehingga membuat persediaan di negara-negara eksportir utama berada pada level yang relatif rendah.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini