Dijagokan Meski Lepas dari PDIP, Ganjar Pranowo Disebut Tak Bakal Berani Lari

Dijagokan Meski Lepas dari PDIP, Ganjar Pranowo Disebut Tak Bakal Berani Lari Kredit Foto: Instagram/Ganjar Pranowo

Peluang Ganjar Pranowo maju di Pilpres 2024 sangat terbuka lebar. Banyak partai yang mulai kepincut dengan pesona Gubernur Jawa Tengah tersebut. Kalau nantinya Ganjar benar-benar ditendang PDIP, banyak partai yang siap menampung karena Ganjar dianggap barang bagus.

Hubungan Ganjar dengan sejumlah elite PDIP pendukung Puan Maharani makin ruwet. Sejumlah kader sudah terang-terangan mempersilakan Ganjar hengkang dari partai. Genderang perang yang ditabuh partainya, membuat peluang Ganjar dapatkan tiket nyapres dari PDIP makin sulit.

Baca Juga: Mas Ganjar, Sabar Yah! Sebaiknya Fokus di PDIP Aja, PKS Mau Ajukan Kader Sendiri, Bukan Anda!

Di tengah prahara muncul di kandang Banteng ini, sejumlah parpol justru mulai menggoda Ganjar. Banyak parpol yang siap buka tangan lebar-lebar untuk Ganjar. Pertama, adalah PKS. Partai yang berada di luar pemerintahan ini membuka peluang untuk mengusung Ganjar di Pilpres 2024.

Ketua Departemen Politik DPP PKS, Nabil Ahmad Fauzi, mengatakan bahwa partainya sangat terbuka dengan tokoh luar parpol untuk dijagokan sebagai capres. Ganjar jadi salah satu nama yang lagi dibidik PKS untuk didekati. "Beberapa nama figur eksternal memang muncul. Selain Anies Baswedan, juga Ganjar dan AHY," kata Nabil dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Nabil menjelaskan, alasannya mengusung capres nonkader dengan tiga pertimbangan. Pertama, koalisi partai pengusung memenuhi ambang batas pencalonan presiden. Kedua, tingkat keterpilihan capres-cawapres. Selain itu, PKS mensyaratkan kesepakatan antarpartai pengusung calon.

"Kami masih membuka pintu untuk dialog dengan tokoh mana pun. PKS belum menutup pintu bagi tokoh yang ingin didukung di Pilpres 2024," ujarnya.

Selain PKS, Partai NasDem juga terang-terangan kepincut dengan Gubernur Jateng 2 periode itu. Partai yang lagi dekat dengan Anies Baswedan ini tanpa ragu-ragu menawarkan Ganjar untuk ikut konvensi capres di partainya. "Apabila Ganjar berniat untuk ikut konvensi capres, tentu NasDem terbuka," kata Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dia mengakui, selama ini Ganjar memiliki modal elektabilitas cukup tinggi dan menjanjikan untuk diusung sebagai capres. Menurutnya, NasDem juga akan melihat kapasitas dan kapabilitas kandidat. "Ini kan urusan menjadi presiden, maka kemudian kita juga jangan melupakan integritas dan kapabilitas secara paket utuh," imbuhnya.

Namun begitu, lanjut Willy, saat ini Partai NasDem tengah menjalin komunikasi dengan sejumlah partai politik untuk memastikan tiket. Jangan sampai, konvensi yang dilakukan tanpa koalisi partai politik. "Kami tidak ingin menjual kucing dalam karung dan hanya pepesan kosong," katanya.

Ketua Bappilu Partai Demokrat Andi Arief mengakui, hubungan Ganjar dengan partainya terjalin bagus. Bahkan, dalam pencalonan Ganjar di periode kedua, Partai Demokrat menjadi salah satu partai pengusung. "Soal Pak Ganjar, ketum dan partai memiliki hubungan silaturahmi yang sangat baik," katanya kepada wartawan, kemarin.

Namun begitu, dia enggan mengomentari peluang Ganjar diusung Partai Demokrat. Menurutnya, Partai Demokrat tengah fokus mendorong Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di pilpres mendatang. Lagipula, AHY memiliki elektabilitas atas hasil kerjanya. "Elektabikitas AHY sebagai capres selalu masuk 5 besar meski bukan pejabat negara," katanya.

Andi tak ingin ikut campur terkait polemik yang terjadi antara Ganjar dan PDIP. Dia berharap, orang nomor satu di Jawa Tengah itu mampu menyelesaikannya dengan baik. "Kami menghormati kedaulatan PDIP dan berharap yang terbaik bagi PDIP," katanya.

Mungkinkah Ganjar tinggalkan PDIP demi nyapres? Pengamat Politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, memprediksi Ganjar takkan maju capres tanpa PDIP. Menurutnya, Ganjar tidak ingin disebut kacang lupa akan kulitnya. Lagipula, kata Hensat-sapaannya, Ganjar juga telah mendapat sejumlah fasilitas lewat PDIP. Karena itu, Ganjar tidak mungkin berani maju tanpa PDIP.

Soal capres, kata Hensat, Ganjar hanya bisa pasrah. Tidak banyak yang bisa diperbuat mantan anggota DPR dua periode itu. Sebab, makin dia ngotot maju, makin banyak pula yang menentangnya di internal partai. "Sekarang dia hanya berharap menunggu keajaiban PDIP mengusungnya jadi capres," katanya.

Namun, lembaga Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dalam survei terbarunya menyebut, Ganjar berpeluang besar menang Pilpres meskipun tanpa PDIP.

Manajer Program SMRC, Saidiman Ahmad, mengatakan bahwa pemilih Ganjar bila nanti maju sebagai capres bukan hanya dari PDIP. Eks Wakil Ketua Komisi II DPR itu juga dipilih partai lain seperti dari PKB sebesar 68 persen, Demokrat 40 persen, partai non-parlemen (46 persen), dan yang menyatakan "belum tahu" memilih partai mana (31 persen).

Selain itu, Ganjar, katanya, juga mendapat suara lebih baik dari pemilih NasDem dibandingkan Anies. Sekitar 27 persen pemilih NasDem menyatakan mendukung Ganjar, dan hanya 21 persen yang menyatakan mendukung Anies. "Dengan demikian, terlihat bahwa peluang Ganjar masih tetap besar kalaupun tidak dipilih sebagai calon oleh PDIP," kata dia.

Tak hanya itu, Saidiman juga memaparkan, Ganjar unggul dalam kelompok pemilih yang puas dengan kinerja Jokowi sebesar 43,9 persen. Sementara kandidat lainnya, Prabowo dan Anies, justru unggul di kelompok yang tidak puas dengan kinerja Jokowi.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini