Startup Evermos Catat Tambah Penghasilan Reseller saat Covid-19

Startup Evermos Catat Tambah Penghasilan Reseller saat Covid-19 Kredit Foto: Evermos

Startup social commerce berbasis syariah, Evermos, mencatatkan peningkatan jumlah reseller 20% per bulan selama pandemi. Startup social commerce berbasis syariah tersebut mengeklaim, reseller bisa dapat komisi hingga Rp2,5 juta per bulan.

Berdasarkan laporan McKinsey, social commerce adalah platform yang memfasilitasi jual-beli produk melalui media sosial. Sementara, e-commerce memfasilitasi transaksi, termasuk pembayaran dan pengiriman.

Baca Juga: Startup BukuWarung Kantongi Pendanaan Rp870 Miliar

Co-Founder Evermos, Ghufron Mustaqim, menilai, peningkatan jumlah reseller saat Covid-19 karena banyak yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan. "Penghasilan mereka turun, menganggur, atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK)," kata Ghufron saat konferensi pers virtual, Rabu (16/6/2021).

Evermos mempunyai misi untuk memberdayakan dan menyejahterahkan pelaku Usaha Kecil Menengah dan Mikro (UMKM) untuk memperluas jangkauan dan skala konsumen mereka. UMKM adalah pilar ekonomi penting yang berkontribusi terhadap 60% PDB (Pendapatan Domestik Bruto) Indonesia dan menyerap 97% tenaga kerja.

"Komitmen kami adalah terus berupaya untuk memberdayakan UMKM karena 90% brand yang bermitra dengan Evermos merupakan UMKM," ungkap Ghufron.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ada 29,12 juta angkatan kerja yang terkena dampak Covid-19 pada tahun lalu. Sebanyak 2,56 juta di antaranya menjadi pengangguran. Lalu, 760 ribu menjadi bukan angkatan kerja. Tak hanya itu, 1,77 juta orang tidak bekerja sementara atau dirumahkan.

Ghufron menilai, menjadi reseller merupakan salah satu solusi agar masyarakat bisa mendapatkan penghasilan. "Mereka bisa berbisnis tanpa modal," katanya.

Evermos memfasilitasi masyarakat yang ingin menjadi reseller dan berjualan secara online. Produk yang dijual di media sosial lewat platform Evermos adalah hijab, pakaian muslim, buku, dan lainnya. "Data internal, top 20% reseller dapat penghasilan dan komisi Rp2,5 juta per bulan," katanya.

Hingga kini, Evermos memfasilitasi sekitar 75 ribu reseller di Indonesia. Sebanyak 75% di antaranya berada di Jawa dan 18% di Sumatera. Evermos menargetkan satu juta reseller dalam lima tahun ke depan. Untuk itu, perusahaan menambah berbagai layanan dan memberikan pelatihan.

"Ada tim pelatihan yang berikan pendampingan agar menjadi reseller profesional," ujarnya.

Perusahaan juga menggaet 500 brand lokal, dan ditarget 10 ribu dalam lima tahun. Evermos mengeklaim, mereka bisa meningkatkan omzet 10%-20% setelah bergabung. Investment Associate Jungle Ventures Karissa Adelaide menilai, Evermos mempunyai potensi pertumbuhan besar. "Mayoritas masyarakat Indonesia ini muslim. Itu juga alasan kenapa kami berinvestasi di Evermos," kata Karissa, Rabu (16/6/2021).

Jungle Ventures memberikan pendanaan seri A US$8,2 juta atau sekitar Rp115,1 miliar kepada Evermos pada 2019. Investor lain yang terlibat adalah Shunwei Capital dan investor terdahulunya (existing investor) Alpha JWC.

Dalam laporan McKinsey berjudul The Digital Archipelago: How Online Commerce is Driving Indonesia’s Economic Development pada 2018, potensi penjualan di social commerce diramal mencapai US$25 miliar. Proyeksi ini belum menghitung dampak pandemi virus corona.

Sementara, Facebook dan Bain and Company memperkirakan, nilai transaksi belanja online di Indonesia hampir US$72 miliar atau sekitar Rp1.047,6 triliun pada 2025. Angka ini melonjak dibandingkan proyeksi awal US$48 miliar, karena pandemi.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini