FIF Prediksi Penjualan Sepeda Motor Kembali Moncer di Tahun 2023

FIF Prediksi Penjualan Sepeda Motor Kembali Moncer di Tahun 2023 Kredit Foto: Sufri Yuliardi

PT Federal International Finance (FIF Group) memproyeksikan penjualan sepeda motor khususnya merek Honda akan kembali pulih secara utuh pada tahun 2023, setelah sebelumnya terdampak cukup signifikan akibat pandemi Covid-19.

Presiden Direktur FIF Group Margono Tanuwijaya mengatakan, perkembangan bisnis kendaraan roda dua pada Mei 2021 bila dibandingkan tahun lalu sebetulnya terjadi peningkatan yang lumayan di mana penjualannya secara YoyY mengalami kenaikan kurang lebih 17%. 

"Cuma kalau kita lihat bulanannya, sekarangkan di otomotif problemnya bukan hanya pasar aja tapi juga ketersediaan stok juga masalah. jadi prediksi kita tahun ini penjualan motor dibanding tahun lalu sudah ada pertumbuhan 17-20%, tapi tentu tidak akan sama dengan tahun 2019 karena tahun lalu akibat Covid-19 growth-nya turun lebih dari 50%," ujarnya saat Silaturahmi bersama Pimpinan dan Tokoh Media secara virtual di Jakarta, baru-baru ini.

Baca Juga: Efek Libur Lebaran, Penjualan Honda Turun 16%

Baca Juga: Nyata Ngebantu Nasabah, Restrukturisasi Kredit Astra Financial Capai Rp31 Triliun

Baca Juga: Anti-Pandemi, Raihan Premi Astra Life Meroket 82% di Kuartal I 2021

Dengan kondisi demikian, Margono memprediksikan pasar sepeda motor akan kembali pulih seperti sebelum pandemi Covid-19 pada tahun 2023 mendatang. Namun, lanjutnya, tetap sangat bergantung pada perkembangan ekonomi dari bulan ke bulannya. 

"Karena bisa saja di semester I penjualan motor bagus tapi kita nggak tahu di semester II kasus Covid-19 meningkat atau tidak, terjadi pengetatan lagi atau tidak kita nggak tau, karena pengetatan bedampak juga pada customer di roda dua," tukasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Director in Charge Astra Financial, Transportation & Logistic Suparno Djasmin menjelaskan, total market sepeda motor Honda pada 2019 sebesar 6,4 juta kemudian turun 40% menjadi 3,6 juta akibat pandemi Covid-19 di tahun 2020.

"Nah tahun ini dari asosiasi diperkirakan ke 4,6 juta naik hampir 1 juta tapi tetap masih di bawah 6,4 juta seperti di tahun 2019," ucap Abong, sapaan akrab Suparno Djasmin.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini