Massa Gerindra, PKS, dan Demokrat Berdiri di Barisan Depan Tolak Jokowi Nyapres di 2024

Massa Gerindra, PKS, dan Demokrat Berdiri di Barisan Depan Tolak Jokowi Nyapres di 2024 Kredit Foto: Antara/Biro Pers/Kris/handout

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei terkait setuju atau tidaknya Presiden Joko Widodo maju kembali sebagai calon presiden (capres) 2024. Hasilnya, lebih dari 50 persen responden tak ingin Jokowi maju lagi.

"Kalau ditanya Presiden Jokowi harus kembali jadi capres untuk ketiga kalinya di Pilpres 2024, apakah setuju atau tidak. Yang menarik ternyata yang mengatakan tidak setuju Pak Jokowi maju tiga kalinya, ada 52,9 persen yang menyatakan tidak setuju," ungkap Direktur Komunikasi SMRC, Ade Armando, Minggu (20/6).

Baca Juga: Jokowi Dinilai Masih Jauh Ungul dari Politikus Anak Kemarin Sore dan Pembuat Intoleran Merajalela

Adapun yang menyatakan setuju adalah sebesar 40,2 persen. Sedangkan sisanya, sebanyak 6,9 persen, menjawab tidak tahu. "Yang bilang setuju presiden dipilih kembali sekitar 40,2 persen," imbuhnya.

Ade mengatakan, penolakan Jokowi maju capres lagi datang dari berbagai pemilih lintas partai. Terbanyak, pemilih Partai Gerindra, PKS, dan Demokrat.

"Penolakan atas gagasan pencalonan kembali Jokowi sebagai capres berasal dari lintas pemilih partai, terutama dari massa pemilih Gerindra 78 persen, PKS 78 persen, Demokrat 71 persen, yang belum punya pilihan partai 60 persen, Golkar 54 persen, dan pemilih PKB 51 persen," rinci Ade.

Baca Juga: Uhuk! Nasib Ganjar Prabowo Bisa Sama dengan Jokowi, Asalkan...

Sedangkan responden yang setuju jika Jokowi maju lagi datang dari pemilih PDIP dan partai nonparlemen. 

"Yang mendukung Jokowi maju lagi datang terutama dari masa pemilih PDIP 66 persen dan massa pemilih partai nonparlemen 60 persen," tandasnya.

Survei ini dilakukan pada 21-28 Mei 2021 dengan wawancara langsung atau tatap muka. Total responden sebanyak 1.072 orang dengan usia 17 tahun atau lebih. Margin of error rata-rata dari survei tersebut sebesar kurang-lebih 3,05 persen dengan tingkat kepercayaan sebesar 96 persen. 

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini